Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

PENAWAR RESAH

Sudah hampir satu tahun Pak Abimanyu tidak mengunjungi dua anaknya.Setiap hari dia selalu menguatkan niat untuk bertemu dengan Laskar dan Aksara, tapi selalu mundur karena takut mereka tidak menerima kehadirannya. Rasa rindu pun tak terbendung lagi, hari itu dia memberanikan diri untuk segera bertemu dengan anak-anaknya. "Pak, hari ini jadwal bisa dikosongkan. Bapak ada rapat besok pagi untuk pembahasan pembangunan pabrik yang baru.." kata Wiryo, asisten pribadi Abimanyu. Bapak Laskar dan Aksara itu bukanlah orang sembarangan. Dia salah satu direktur  di perusahaan pertambangan.  Beliau sudah cukup jenuh bekerja menahun untuk membangun perusahaan, mendedikasikan diri untuk perusahaannya sampai dia tidak memiliki waktu untuk keluarga. Lalu, perceraianlah yang membuatnya sadar bahwa hidupnya semakin hampa tanpa ada istri dan anak-anaknya. Wiryo sang asisten yang telah bekerja bertahun-tahun memandang wajah atasannya. Hari ini Pak Abimanyu tidak memiliki agenda sepe...

SUNYI

Perjalanan kisah Aksara terus berlanjut dan dia terus menunggu di mana klimaksnya. Dia hanyalah seorang perempuan penunggu penjelasan dan penuntut untuk menemukan misi masa depan. Sayang, dua hal dalam dirinya itu lama-kelamaan membuat jarak dan batas yang tidak dia duga hadir. Hubungannya dengan Barata semakin lama semakin tidak jelas. Ada sekat yang membatasi mereka untuk saling berbicara, saling melepaskan atau bahkan saling rindu. Julian dan Farah, mungkin saja dua manusia di masa lalu inilah yang menjadi sekatnya. Aksara bingung apa yang harus dilakukannya, tapi dia juga tidak bisa melanjutkan komitmen bersama Barata karena dia mulai meragu. Di suatu sore, Barata mengajak Aksara untuk bertemu. Mereka datang masing-masing. Aneh dan sangat merasa asing satu sama lain. "Udah lama rasanya gak ketemu pacar sendiri, komunikasi juga minim, cuma ada jarak atau sekat.." Barata membuka pembicaraan. Aksara masih diam dengan secangkir cappucino di hadapannya. ...

JARAK

Semenjak mengantarkan Aksara pulang untuk pertama kalinya, Julian merasa jarak antara dirinya dan Aksara mulai pudar. Jarak itu memudar seiring dengan berjalannya waktu dan seiring kesempatan yang diberikan Aksara untuknya. Jauh-jauh hari Julian mempersiapkan diri untuk memberi penjelasan kepada Aksara. Masa ini adalah masa dia benar-benar ingin bertemu Aksara, ingin datang kembali dan ingin memohon maaf pada Aksara. Dia tahu seberapa salahnya, dia tahu seberapa kecewanya Aksara dan Julian sudah bersiap untuk membayar semua itu. Di lain tempat, Barata terus memikirkan nasibnya dan penjelasan yang didapatnya dari Farah. Nasib percintaannya dengan Aksara belum genap menyentuh satu tahun, sementara Farah, cinta pertamanya datang kembali memohon perdamaian dengannya. " Kalau gini terus lama-lama gue bisa gila, fuck!" Barata gusar. Hari itu juga, dia ingin menemui Aksara dan mengajaknya ngobrol, lagi-lagi Aksara menolak. Barata semakin cemas, sebelumnya Aksara sudah men...

NOSTALGIA

Hujan tak henti-hentinya turun hari itu.  Kadang deras,  kadang gerimis,  kadang berhenti lalu deras kembali.  Langit tidak mengizinkan matahari bersinar kali ini,  hanya ada mendung dan guratan hitam di awan. "Hujannya awet,  lo gak mau main?"  Mereka sedang menuju keluar parkiran. "Main hujan?" "Iya, semenjak..." Tiba-tiba Aksara memotong ucapan Julian,"Masih harus dibahas ya?" "Sar..!" Julian menarik tangan Aksara. " Gue tau gue salah. Tapi apa lo gak bisa ngasih gue kesempatan buat ngejelasin, kasih gue ruang buat bicara tanpa menjauh dari gue?" Aksara menatap Julian, lalu membuang muka. Memperjelas keadaan kesalnya terhadap Julian. "Kesalahan itu memang kebodohan gue.. tapi gue punya alasan, ah enggak! Gue gak punya alasan.." "Terus kenapa lo minta gue kasih kesempatan buat ngejelasin kalau lo gak punya alasan?" "Gue cuma mau kasih penjelasan sama lo.." ...

RUANG BICARA

" Lo mau berangkat? Mau bareng gak?" "Mau, ayo.." Laskar aneh melihat perubahan sikap Aksara beberapa hari itu. Aksara lebih banyak mengurung diri di kamar. Laskar berpikir keadaan itu ada hubungannya dengan Barata atau bahkan Julian. Informasi mengenai Julian sampai pada Laskar melalui Nala yang penasaran dengan perubahan sikap Aksara saat pertama kali bertemu Julian. "Lo kenapa Sar?" "Gak.. gue cuma rada ngantuk aja. Yuk, bang ke buru telat.." "Tapi Barata gak jemput lo hari ini?" "Gue udah bilang kok gak usah jemput.." "Oh oke.." Laskar semakin menyakini bahwa ada sesuatu yang terjadi. ** Aksara memasuki ruang kerjanya. Hari ini gairah kerjanya semakin menurun, tapi dia tetap berusaha untuk fokus. "Aksara..." lagi-lagi Nala yang memecahkan semua keheningan Aksara. Dia sudah mematung selama lima menit di pintu ruang kerja Aksara. "Nala.. lagi-lagi.....

PUBLIKASI

Hampir dua minggu Julian bekerja di kantor yang sama dengan Aksara. Semakin hari dia semakin mengetahui bagaimana kehidupan Aksara setelah bertahun-tahun berpisah. Aksara tetap menjadi perempuan yang menarik untuk Julian. Dia perempuan yang mandiri, bertanggungjawab, pekerja keras, tekun dan gigih itulah yang membuat Julian ingin lebih akrab dengannya. " Cuma gue terlalu banyak ragu dan banyak milihnya.. sial. ." Julian membatin di ruangannya.  Sementara Aksara asik bergulat dengan tugas-tugasnya. Pagi hingga siang hari dia sudah bertemu tiga klien hari itu, dilanjut siang ke sore dia harus menyelesaikan beberapa syuting iklan produk lokal, pekerjaan membuatnya lengah terhadap Julian dan memperkuat hubungannya dengan Barata. Beberapa hari yang lalu, Aksara memperkenalkan secara langsung Barata pada Julian sebagai pacarnya. Ketika itu Aksara, Julian dan Barata sedang mengadakan rapat untuk sebuah perusahaan tekstil. "Oh ya Julian, sebelum keluar. Kenalin...

LUKA MASA LALU

Aksara benar-benar memastikan kepada Nala, apakah Julian benar-benar layak bekerja di ArtSpace atau tidak. Sebenarnya yang dipastikan Aksara adalah dirinya, bukan kemampuan Julian atau pun keinginannya. " Ya tuhan.. kenapa semuanya kembali.." Aksara mengumpat di ruang kerjanya. Rasa kecewanya bertahun-tahun muncul seketika. Tidak ada satu pun senyum dari bibir Aksara ketika menyambut Julian. Dia menolak perintah Nala untuk mengantar Julian ke ruang kerja, Aksara menyarankan Tiwi untuk melakukan perintah tersebut. Hari itu juga, hidup Aksara kembali gusar karena rasa. Hari itu juga, Aksara merasakan kembali luka di masa lalu yang baru berbulan-bulan dia hapus bersama Barata. Dan hari itu juga Aksara mencari-cari Barata di kantor. Karyawan di kantor dibuat kaget oleh Aksara yang tampak histeris kehilangan Barata. "Ndra.. lo lihat Barata di mana?" Aksara menanyakan Barata kepada salah satu timnya. Barata belum terlihat, di ruang kerjanya, di ruang rapat, d...