SUNYI

Perjalanan kisah Aksara terus berlanjut dan dia terus menunggu di mana klimaksnya. Dia hanyalah seorang perempuan penunggu penjelasan dan penuntut untuk menemukan misi masa depan. Sayang, dua hal dalam dirinya itu lama-kelamaan membuat jarak dan batas yang tidak dia duga hadir.

Hubungannya dengan Barata semakin lama semakin tidak jelas. Ada sekat yang membatasi mereka untuk saling berbicara, saling melepaskan atau bahkan saling rindu. Julian dan Farah, mungkin saja dua manusia di masa lalu inilah yang menjadi sekatnya. Aksara bingung apa yang harus dilakukannya, tapi dia juga tidak bisa melanjutkan komitmen bersama Barata karena dia mulai meragu.

Di suatu sore, Barata mengajak Aksara untuk bertemu. Mereka datang masing-masing. Aneh dan sangat merasa asing satu sama lain.

"Udah lama rasanya gak ketemu pacar sendiri, komunikasi juga minim, cuma ada jarak atau sekat.." Barata membuka pembicaraan.

Aksara masih diam dengan secangkir cappucino di hadapannya.

"Kenapa Sar? Ada yang gak bisa dijelasin setelah kita mendapatkan penjelasan dari mereka?"

"Mereka?"

"Farah dan Julian. Masa lalu.."

"Bara. Ini kayaknya bukan cuma masalah di antara penjelasan aja deh, tapi juga di antara kita. Lo nyadar gak sih?"

"Maksud lo?"

"Kita kaya ada jarak dan sekat. Kayak ada keraguan dan kebimbangan dan kayak ada suatu hal yang ditutupi.."

"Oh lo ngerasa kalau gue gak jujur gitu? Semua penjelasan Farah udah gue terima, gue udah nyelesaiin kok. Terus masalahnya apa?"

"Gue bukan nuduh lo. Kalau pun udah selesai, kenapa lo gak coba ngejelasin ke gue?"

"Terus lo sendiri gimana? Kenapa juga gak ngejelasin ke gue tentang penjelasan Julian ke lo? Bukan cuma gue Sar, tapi lo juga harus ngelakuin itu.."

"Ya tuhan, kenapa serumit ini sih. Dan kenapa lo berubah? Lo pikir gue sama Julian lagi asik-asiknya mengenang masa lalu?"

"Bisa jadi."

"Oke Bara. Gue kasih tau ya sama lo. Julian memang udah kasih penjelasan ke gue, tapi belom semuanya. Gue masih harus dapat penjelasan lebih dan hal lain yang harus lo tau, penjelasan itu karena perempuan, karena Julian punya perempuan lain.." Nada bicara Aksara mulai tinggi. Dia tidak sadar air matanya perlahan turun. Seketika Aksara merasa semua kisahnya begitu dramatis.

Barata kaget mendengar ucapan Aksara. Dia menyadari sebuah kesalahan lagi dalam kalimatnya dan dia tidak tahu bahwa Aksara dalam keadaan sedih saat itu. "Perempuan lain?"

"Gue butuh waktu Bar untuk menyelesaikan semuanya. Julian pergi tanpa alasan itu bukan hal yang mudah. Gue cuma nuntut penjelasan kok, bukan berarti perasaan gue ke Julian masih sama. Gue pikir awalnya lo bakal paham dan ngerti, karena gue selalu berusaha untuk memahami lo, terutama soal Farah. Nyatanya gue salah."

Barata semakin merasa bersalah. Emosinya begitu mudah membuncah sehingga dia tidak bisa mengendalikan diri. Kini semuanya sunyi hanya ada deru napas yang saling bergantian.

Lebih kurang 10 menit mereka saling diam. Saling meredakan emosi dan mendinginkan suasana.

"Sar.. gue minta maaf. Gue gak tahu kalau masalah lo.."

"Kalau masalahnya gue dikhiantin gara-gara cewek? Ya gak lah, gue gak sampai jadian sama Julian. Dia cuma ninggalin gue sebagai teman..itu aja, tapi.."

"Tapi..?"

"Tapi itu terlalu menyakitkan dan buat gue slalu bertanya-tanya dan gue berhak mendapatkan penjelasan. Itu aja."

"Sar, gue benar-benar minta maaf."

"Gue rasa kita sejenak harus ada jeda ada Bar.."

**

Malam semakin larut, bintang-bintang bersinar redup. Malam itu Aksara pulang sendiri. Setelah ingin ada jeda di antara hubungannya dengan Barata, dia semakin merasa sunyi dan hampa. "Hidup gue terlalu melow dan dramatis buat ditangisin.." Aksara membatin sambil berjalan kaki ke rumahnya. Dia sengaja turun di depan komplek, ingin meratapi kegalauanya dengan menikmati jalan kaki di bawah bintang-bintang yang tidak berkilauan. 


"Woy! dari mana lo?" Laskar meneriaki Aksara dari pagar rumahnya yang hampir sampai di rumah.

"Lah lo sendiri dari mana?" 

"Dari minimarket noh beli rokok.."

"Rokok aja yang lo pikirin, nih jantung nih sehat gak?" kata Aksara sambil menepuk posisi jantung di badan Laskar.

"Ya elah diimbangi aja sama olahraga, olah tubuh, olah pikiran dan hati. Masuk ah.."

"Kayak yang bener lo ngomong.." sahut Aksara sambil masuk ke dalam rumah.

Laskar dan Aksara duduk di ruang tamu. Sudah cukup lama mereka tidak memulai obrolan berdua. Aksara menjatuhkan dirinya di sofa. Laskar melirik adik kecilnya yang sudah menjadi perempuan dewasa itu.

"Napa lo?" tanya Laskar sambil menyulut rokoknya.

"Bagi gue boleh gak?"

"Apaan? rokok? gue gantung mau lo, macem-macem.."

"Sialan lo, terus lo ngapain ngerokok deket gue. Lebih parah itu dibanding lo kasih gue.."

Laskar langsung mematikan rokoknya. Dan mencodongkan badannya ke Aksara, mengendus-ngendus perlahan-lahan. 

"Apaan sih bang.."

"Lo mabok ye?" kening Laskar mengerut.

Aksara langsung tertawa. " Gila lo gak lah, sekali-kalinya pun gue gak bakal banyak.."

"Lo kenapa sih? Julian? Barata?"

"Tau ah! hidup gue tuh kayak yang sunyi, rumit, gak jelas aja gitu.."

Laskar mengusap-usap kepala adiknya. Dan memeluknya perlahan. Laskar selalu tahu cara bagaimana menenangkan hati Aksara ketika sedih atau pun galau.

"Semuanya manusiawi kalau lo jalanin aja, nikmatin aja dan gak usah diambil pusing.."

"Segampang itu?"

"Ya, teori gue sih. Apapun kerumitan hubungan lo dan Barata atau bahkan permasalahan lo sama Julian lo harus nerima dan lo harus bisa memilih atau memutuskan. Sekarang ataupun nanti.."

Aksara melepaskan diri dari pelukan Laskar. " Uh.. gue itu cuma butuh waktu untuk mencerna semuanya. Kayaknya kata lo sama Nala benar deh, gue emang masih belom cukup dewasa.."

"Hahaha. Adik gue udah dewasa kok, cuma belom cukup umur.." 

"Kebalik kali! Eh, gimana lo sama Julia?"

"Sejauh ini aman sih, cuma ya gue belom berani aja sih buat ngajak lebih serius, maksudnya buat obrolin nikah gitu.."

"Why?"

"Takut ditolak.. hahaha.. gue masih pengen bebas sih dan gue liat Julia pun gitu.."

Percakapan Aksara dan Laskar malam itu diakhir dengan tawa mereka. Laskar berhasil mengobati kegundahan Aksara untuk sejenak. Mereka saling menceritakan segala hal sampai keinginan mereka untuk menikah suatu hari nanti.

"Kalau pun gue dan lo udah nikah Sar, kita tetap harus kompak dan saling sayang ya.." ujar Laskar sambil menepuk pundak Aksara yang sudah tertidur di pangkuannya. Bagi Laskar, Aksara akan terus menjadi adik  kecilnya. Dia harus selalu menjaga, melindungi dan menyayangi Aksara di manapun dan kapanpun.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN

PUBLIKASI