PUBLIKASI

Hampir dua minggu Julian bekerja di kantor yang sama dengan Aksara. Semakin hari dia semakin mengetahui bagaimana kehidupan Aksara setelah bertahun-tahun berpisah. Aksara tetap menjadi perempuan yang menarik untuk Julian. Dia perempuan yang mandiri, bertanggungjawab, pekerja keras, tekun dan gigih itulah yang membuat Julian ingin lebih akrab dengannya.

"Cuma gue terlalu banyak ragu dan banyak milihnya.. sial.." Julian membatin di ruangannya. 

Sementara Aksara asik bergulat dengan tugas-tugasnya. Pagi hingga siang hari dia sudah bertemu tiga klien hari itu, dilanjut siang ke sore dia harus menyelesaikan beberapa syuting iklan produk lokal, pekerjaan membuatnya lengah terhadap Julian dan memperkuat hubungannya dengan Barata.

Beberapa hari yang lalu, Aksara memperkenalkan secara langsung Barata pada Julian sebagai pacarnya. Ketika itu Aksara, Julian dan Barata sedang mengadakan rapat untuk sebuah perusahaan tekstil.

"Oh ya Julian, sebelum keluar. Kenalin ini Barata.."

"Loh kan udah kenalan Sar. Julian udah hampir sebulan kali di sini.." sahut Barata.

Aksara tersenyum dan dengan bangga menjawab," Sebagai pacar kan belum dikenalin.."


Dua laki-laki di ruangan itu saling terdiam. Barata hanya bisa melepaskan senyum, sementara Julian berusaha mengendalikan diri.


"Oh okey, gue udah tahu kok. Anak-anak juga udah pada bilangin.."

"Oh gitu, duh jadi digosipin sama temen-temen nih, maaf ya.." Barata berusaha menghalau rasa canggungnya.

"Bagus deh kalau gitu, dari pada ditutupin lagian kali ini gue sama Barata serius kok.." tegas Aksara dengan senyum pasti di bibirnya.


**

Julian merasa terperangkap berada di antara Barata dan Aksara. Tujuannya bekerja di kantor Nala karena kemaunnya, di luar dugaan dia kembali bertemu dengan Aksara. Keadaan ini membuat dia tidak fokus, terlebih melihat kedekatan Aksara dan Barata, Julian bingung apa dia masih ingin dekat dengan Aksara atau itu hanya semacam usikan rasa di masa lalu?


Diam-diam Julian berusaha keras untuk memperbaiki hubungannya dengan Aksara. Dia tidak tahu apa akhiri dari usahannya, untuk menjalin kerjasama yang baik dengan Aksara atau kah untuk mendapatkan kembali Aksara sebagai teman terdekatnya. Namun perempuan juga selalu berusaha untuk menghindarinya dengan keras. 


"Maaf ya Julian, gue lagi banyak kerjaan. Maaf ya, gue dijemput Julian. Oh maaf, gue lagi sibuk......" itu kalimat-kalimat yang selalu menutup obrolan kaku Julian dan Aksara. Julian tahu itu hanya kalimat-kalimat formalitas untuk menjaga jarak.


**

" Sar..."

"Mau mampir makan es krim dulu gak?"

"Lah kok tumben?"

"Ada yang pengen gue obrolin?"

Sore sepulang kerja, Aksara dan Barata sedang menikmati perjalanan pulang. Rutinitas baru yang mereka nikmati setelah beberapa bulan bersama. Mereka menghabiskan waktu sore menuju malam dengan duduk di taman, membeli jajanan, nonton atau pun makan es krim sepuasnya. Tapi kali ini sikap Barata sedikit berbeda.


"Jadi mau ngomong apa?" Aksara mulai menyelidiki

"Hem.. jadi gini. Tapi lo jangan marah ya beh, gue cuma..."

"Enggak.. terus?"

"Kayanya lo gak harus terlalu keras deh sama Julian.."

"Loh kok tiba-tiba ke dia sih?" Obrolan yang sebenarnya tidak ingin Aksara dengar.


Barata terdiam sesaat. Menatap wajah Aksara yang berubah menjadi kesal. Dia menghela napas, menyiapkan diri kembali untuk memulai obrolan.


"Gue gak mau aja Sar kesannya ngerebut lo dari dia?"

"Ngerebut gimana? Gue aja gak pernah ada hubungan yang jelas sama dia.."

"Tapi kan dia lebih dulu kenal lo dibanding gue.."

"Ah.. ada obrolan lain gak ya kira-kira? Ngapain bahas orang yang gak penting gini.."

"Gue cuma gak mau lo gak nyaman di kantor.."

Hening.

Barata mengakui dirinya sudah membuat Aksara kesal kali ini. Aksara mengaduk-aduk es krimnya tidak karuan. Barata kembali menghela napas, dia tidak ingin menghabiskan waktu hanya dengan berdiam saja. Dan dia harus menjelaskan satu hal.

"Ada satu hal lagi yang harus diobrolin?"

"Apa?" kekesalan Aksara jelas mulai memuncak.

"Tentang Farah?"

"Gue gak paham deh, apa hari kita khusus ngobrolin tentang orang-orang di masa lalu?"

"Bukan. Kita cuma harus mencari titik temu dan menyelesaikan Sar.."

"Kenapa Farah?"

"Farah terus menghubungi gue, dia minta gue untuk kasih dia waktu.."

"Waktu?"

"Buat ngobrol kok, dia pengen ngejelasin semuanya. Tapi gue yakin itu gak lama.."

"Terus?"

"Gue kasih tahu sama lo, biar gak salah paham. Dan kalau lo bolehin, gue bakal nemuin Farah.."

"Oh, ya udah.."

"Maksudnya? Gue nemuin Farah boleh?"

"Silahkan.."


Percakapan sepasang kekasih yang mulai memanas dan ragu itu berakhir dengan hujan yang turun deras. Untuk menghibur kekesalan Aksara, Barata mengajaknya pulang hujan-hujanan, dia berharap kekesalan Aksara karena Julian mereda. Namun yang diharapkan justru berbeda. Sepanjang perjalanan pulan Aksara hanya diam menikmati hujan, tidak seperti biasanya dia yang selalu eforia. Barata pun mulai ragu, kekesalan Aksara bukan pada Julian saja, tapi juga Farah.






 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN