JULIAN

Pertemuan dua orang manusia kadang tidak ada yang bisa menebak.  Bisa bertemu dengan keadaan atau peristiwa tragis atau pun keadaan yang sangat sepele. 

Keadaan itu terjadi pada Aksara.  Berkali-kali ia mengulang cerita nyata dalam hidupnya. Terekam jelas dan akan selalu ia ingat-ingat bagaimana Tuhan memperkenalkan Julian padanya. 

**
Di koridor kampus,  setelah dari ruang senat hari itu Aksara buru-buru masuk ke ruang kelas.  Membawa setumpuk tugas-tugas kuliah dari ruang dosen sebelumnya ke ruang kelas selanjutnya.  Kesialan yang penuh berkah,  ia menabrak seorang mahasiswa.

Klasik, tapi pertemuan itu dimulai dari sana.  

"Duh... maaf-maaf.  sumpah gue ga sengaja.  Ini buru-buru mau ke kelas.."

"Jalan pake mata,  jangan kaki aja diburu-buru," mahasiswa ditabrak mulai mengomel. 

Aksara buru-buru membereskan tugas-tugas kuliahnya yang berjatuhan.  Seseorang datang membantu.

"Kadang ada sih masanya buru-buru,  ada juga masanya harus ngerem,  biar ga diomelin! "
Satu,  dua,  tiga menit. Mereka saling bertatapan. 

"Gue julian, lo?"

Mereka berjabatan. 

"Gue Aksara.."

"Nama yang bagus. Gue bantu ya."

Waktu pun berjalan dengan apik.  Aksara dan Julian pun berkenalan baik. Satu sama lain saling mengisi. Saling membantu layaknya teman,  saling ada saat dibutuhkan,  saling memberi saat kekurangan dan selalu saling hingga muncul sebuah rasa di hati.  Lewat cara,  tindakan,  perilaku dan tingkah mereka berdua. 

Suatu waktu Aksara berpikir bahwa ia mulai jatuh cinta pada Julian.  Tapi ia memungkiri. Ia yakin kalau Julian sama seperti  teman-temannya yang lain.  Ia takut untuk jatuh cinta,  ia takut membangun cinta yang akhirnya diselesaikan dengan sidang perceraian. 

Sejak saat itu Aksara membiarkan segala sesuatu tentangnya dan Julian berjalan mengalir.  Ia mengikuti setiap ritmenya,  ia berproses dan bersikap sewajarnya perempuan. 

"Eh,  sabtu jalan yuk?  sekalian ngerjain makalah.. "

"Ah lo.. gaya doang ngerjain makalah nyatanya main.. "

"Itu sih bonus,  haha..yuk ah!  temenin gue,  jangan nolak, "

Dan obrolan itu selalu berakhir dengan perjalanan-perjalanan mereka yang penuh makna bagi Aksara.  Terlebih di dalam hujan,  buatnya kedamaian memiliki rasa cinta untuk seseorang membuatnya nyaman. Ia merasa bebas untuk menjatuhkan cintanya,  ia merasa sanggup untuk jatuh cinta. 

"Sar.."

"Kenapa?"

"Gak,  gue cuma mau bilang sama lo. Kalau gue sih ngerasa selalu nyaman sama lo, lu baik. Selalu ada buat gue." Sebuah pernyataan diri dari Julian.

"Basi ah lo, kan kita temenan Yan. Ga mungkin lah. Hujan nih. buru motornya dikencengin.." Jawab Aksara untuk menghindari kegundahan dan bersikap konsisten.

"Gue serius,  apa ya..rasa gue itu lebih dari temen,  kaya kakak ke adek,  tapi lebih juga sih.. "

Aksara diam, dia bingung harus menjawab apa.

"Sar.. "

"Gue bingung Julian. Semua yang gue jalanin sama lo bikin gue nyaman, tapi ga mungkin aja.."

Hening. 

Aksara. Dia yang selalu membuat keanehan dalam dirinya. Ia yang selalu  bingung dalam kisah cintanya. Aksara,  ia yang selalu memberanikan diri melekatkan kata-kata  bermakna. Dan ia yang selalu resah menyoal perasaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

PUBLIKASI