RUANG BICARA

" Lo mau berangkat? Mau bareng gak?"

"Mau, ayo.."

Laskar aneh melihat perubahan sikap Aksara beberapa hari itu. Aksara lebih banyak mengurung diri di kamar. Laskar berpikir keadaan itu ada hubungannya dengan Barata atau bahkan Julian. Informasi mengenai Julian sampai pada Laskar melalui Nala yang penasaran dengan perubahan sikap Aksara saat pertama kali bertemu Julian.

"Lo kenapa Sar?"

"Gak.. gue cuma rada ngantuk aja. Yuk, bang ke buru telat.."

"Tapi Barata gak jemput lo hari ini?"

"Gue udah bilang kok gak usah jemput.."

"Oh oke.." Laskar semakin menyakini bahwa ada sesuatu yang terjadi.


**

Aksara memasuki ruang kerjanya. Hari ini gairah kerjanya semakin menurun, tapi dia tetap berusaha untuk fokus.

"Aksara..." lagi-lagi Nala yang memecahkan semua keheningan Aksara. Dia sudah mematung selama lima menit di pintu ruang kerja Aksara.

"Nala.. lagi-lagi.."

"Apa? Kaget?"

"Haha.. iyalah, siapa yang gak kaget tiba-tiba muncul di sana.."

"Gue udah lima menit loh berdiri di sini Sar.."

"Oh.. serius?" Aksara merasa malu tidak menyadari keberadaan Nala.

"Kenapa sih lo? please dong, kali ini jangan bilang 'gue gak papa kok Nal..' gue bosen tahu.."


Aksara menarik napas dalam. Nala meraih kursi di depannya, bersiap untuk menjadi pendengar yang setia. 

"Ayo cerita, gue pendengar yang baik kok.."

"Nala.. gue tahu kok lo tahu gue lagi ada sedikit masalah, tapi..."

"Tapi? Oh, tapi apapun itu masalahnya gue bakal bantuin lo.."

"Iya.. tapi hari ini rapat dengan tim pemasaran, jadi kita bisa tunda dulu curhat-curhatannya, oke pak?" Aksara dengan sigap merapikan beberapa berkas dan proposal yang akan dipresentasikannya.


Nala yang sudah mempersiapkan diri untuk mendengarkan curhatan Aksara hanya bisa terpaku di kursinya. Lagi-lagi dia gagal untuk mendapat ruang mendengar curhatan Aksara dan berada di sisi Aksara dengan waktu yang cukup lama.

 "Nala.. ayo, jangan bengong!" Nala menyusul Aksara dengan ekspresi kesal.

**

Aksara bekerja seperti biasanya. Dia berusaha tenang dan bersikap profesional, meskipun jam kerjanya bersama Julian semakin lama semakin banyak dan harus terus berinteraksi. Sementara Barata hari itu menemui Farah. Setelah mengirimi Aksara pesan bahwa dia bertemu Farah, Aksara berusaha untuk tidak memikirkan apapun yang terjadi. 

"Farah cuma masa lalu Barata, Sar. Lo gak boleh menghalangi Barata mendapatkan penjelasan dari masa lalunya, begitupun lo..." Aksara membatin. 

Tiba-tiba Aksara terdiam dengan ucapannya sendiri. 

" Kalau begitu gue juga berhak mendapatkan penjelasan dari Julian, mungkin itu maksud Barata. Biar tenang menjalani hubungan.."

Tiba-tiba Aksara merasa ini waktunya dia memberi kesempatan kepada Julian untuk berbicara, memberi penjelasan ataupun alasan. Memberi kesempatan Barata untuk berbicara dengan Farah, berarti dia juga memiliki hak yang sama.


Lamunannya berhenti, ketika telpon masuk dari Laskar.


**

"Apa yang mau lo jelasin?"

"Makasih ya Bar, kamu udah mau ketemu aku.."

"Udahlah, jangan basa-basi.."

"Oke-oke.. aku mau ngejelasin tentang kenapa aku tiba-tiba pergi.. tapi ini butuh waktu yang panjang.."

"Lo tinggal jelasin semuanya dan gue bakal memahaminya.."

"Sebelumnya, kamu harus tahu Barata kalau aku udah nikah. Tapi aku sekarang gak tahu, pernikahan aku ini masih lanjut atau nggak.."

"Lo udah nikah, terus lo datang untuk kasih penjelasan? Ini apa sih Farah, lo mau nyakitin gue atau apa?"

"Tapi bukan pernikahan yang aku mau. Semuanya terpaksa.."

"Lalu?"


Farah  pun mencoba menjelaskan apa yang terjadi dengan kehidupannya. Dengan sangat rinci, perempuan berwajah manis itu menceritakan satu per satu kisah hidupnya hingga membuat Barata memahami dan mengerti alasan Farah meninggalkannya. Namun Barata tetap menyayangkan dirinya yang menjadi korban dalam kehidupan dan pilihan Farah, dia masih marah dan masih belum bisa berdamai dengan keegoisan Farah.


**

"Bang? Lo kenapa?"

"Halo.. ? Aksara, ini gue Julia.."

"Julia, kenapa di sana ribut-ribut. Abang gue kenapa?"

"Ada kecelakaan kecil, lo susul Laskar ke rumah sakit ya.."

"Laskar kecelakaan?" Wajah Aksara pucat. Kepanikan langsung melanda Aksara, dia mengemasi berkas-berkasnya dan langsung meninggalkan ruang rapat.


Aksara mencoba menghubungi Barata tapi tidak diangkat. Nala sedang rapat di luar kantor. Orang-orang terdekat yang berusaha dihubunginya tiba-tiba menghilang. Aksara masih panik dan berlari ke luar kantor untuk segera menyusul Laskar. 

"Aksara.. Aksara.." Julian tiba-tiba mengejar Aksara dari belakang. Dari tadi Julian memperhatikan gerak-gerik Aksara yang gelisah dan panik. 


"Aksara, lo kenapa?" sambil terus mengejar Aksara.

"Gue harus ke rumah sakit, tolong lanjutin dulu rapat tanpa gue ya.."

"Lo sakit?"

"Bukan. Laskar.." jawab Aksara dingin.
"Gue anterin ya?" mendadak Julian pun ikut panik.

"Gue bisa nyari taksi kok Julian.."

"Taksi jam segini jarang, udah gue anterin aja.." Julian tanpa sadar mengandeng Aksara ke motornya. 



Laskar terbaring di ruang UGD. Aksara kaget melihat kondisi abangnya yang terbaring lemah. Julian berusaha untuk memberi semangat pada Aksara agar tidak terlalu sedih. Dia berjaga di samping Aksara kalau-kalau perempuan yang sedang menangis itu tiba-tiba roboh.

"Udah Sar, Laskar gak apa-apa kok, cuma cedera di tangan sama kakinya aja.." ujar Julia sambil memeluk Aksara.


"Laskar kenapa?"

"Laskar hari ini ngejemput gue di tempat pemotretan. Gue juga sebenarnya gak janjian, tiba-tiba dia muncul. Waktu Laskar mau nyamperin gue, tiba-tiba ada perlengkapan spot foto yang roboh.. dan Laskar ketimpa sama perlengkapan itu tapi dia cuma shock aja kok, gak parah. Gue minta maaf ya..." Julia berusaha menenangkan Aksara, sementara Julia sendiri masih dalam keadaan panik.

"Gak ada cedera yang parah kan? Patah tulang atau apa?"

"Syukurnya gak ada Sar. Cuma tangan sama kakinya luka ringan dan dia shock.." 


**

Julian berusaha menjadi teman yang baik untuk Aksara hari itu, bukan sebagai masa lalu menyakitkan. Dia menemani Aksara hingga malam di rumah sakit. Sementara Barata belum ada kabar.

"Barata belom ada kabar?" tanya Julian sambil memberi minuman pada Aksara.

"Belom. Mungkin dia sibuk." 

"Emang lagi ngerjain proyek di daerah mana Sar?"

"Bukan urusan kantor, urusan pribadi. Mungkin.." balas Aksara dengan tatapan dingin.


Melihat ekspresi Aksara yang datar dan menahan kesal, Julian merasa ada sesuatu yang terjadi antara Barata dan Aksara. Dia tetap ingin bertahan, berusaha menghibur Aksara.

"Oh.. gitu.."

"Lo pulang aja, gue di sini nungguin Bang Laskar.."

"Ah, enggak. Gue di sini aja.."

"Julian..!"

"Gak apa-apa, gue senang kok.."

"Tapi gue enggak.."


Tiba-tiba pintu ruangan Laskar terbuka. 

"Woy, gue udah boleh pulang nih.." Laskar keluar ruangan dibantu Julia dengan wajah sumringahnya.

"Loh kok lo udah boleh pulang?"

"Iya kan udah dibilang, gue cuma luka ringan aja.."

"Lo tau gak sih bikin gue panik banget. Tau gak?" Mendadak Aksara menangis.

"Cengeng lo. Eh Julian tolong anterin adek gue pulang ya. Gue pulang pake taksi, mobil gue di kantor.."

"Terus tadi lo ngejemput Julia pake apa?"

"Pake motor, hahaha. Sorry nih gue mau ngelanjutin kencan dulu.."

"Hahaha... abang lo nih Sar, gue gak paham sama tingkahnya.." sahut Julia dengan muka memerah.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

JULIAN

PUBLIKASI