PENAWAR RESAH

Sudah hampir satu tahun Pak Abimanyu tidak mengunjungi dua anaknya.Setiap hari dia selalu menguatkan niat untuk bertemu dengan Laskar dan Aksara, tapi selalu mundur karena takut mereka tidak menerima kehadirannya. Rasa rindu pun tak terbendung lagi, hari itu dia memberanikan diri untuk segera bertemu dengan anak-anaknya.

"Pak, hari ini jadwal bisa dikosongkan. Bapak ada rapat besok pagi untuk pembahasan pembangunan pabrik yang baru.." kata Wiryo, asisten pribadi Abimanyu. Bapak Laskar dan Aksara itu bukanlah orang sembarangan. Dia salah satu direktur  di perusahaan pertambangan. 

Beliau sudah cukup jenuh bekerja menahun untuk membangun perusahaan, mendedikasikan diri untuk perusahaannya sampai dia tidak memiliki waktu untuk keluarga. Lalu, perceraianlah yang membuatnya sadar bahwa hidupnya semakin hampa tanpa ada istri dan anak-anaknya.

Wiryo sang asisten yang telah bekerja bertahun-tahun memandang wajah atasannya. Hari ini Pak Abimanyu tidak memiliki agenda seperti yang telah disampaikannya, tapi beliau tetap berpakaian rapi.

"Maaf, bapak mau ke mana?"

"Saya ada urusan keluar, bisa gak antarin saya ke alamat ini?"

Wiryo mengambil kertas yang bertuliskan sebuah alamat. " Oh ini sih gak terlalu jauh pak.."

"Anterin saya ya..."


Sejam kemudian, Pak Abimanyu dan Wiryo sudah duduk di ruang tamu rumah Laskar dan Aksara. Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 pagi sementara pak Abimanyu sudah sangat gelisah menunggu Laskar dan adiknya muncul.


**

"Mas Laskar, itu ada tamu di luar.." Bi Minah menyampaikan pesan pada Laskar juga Aksara.

"Tamu siapa? saya apa Aksara? ini masih pagi banget bi.."

"Buat mas Laskar sama Aksara, mba Aksara.." ujar Bi Minah agak sedikit ragu.

Laskar bergegas keluar kamar dan memanggil Aksara. Mereka berdua menuju ke ruang tamu.


"Ayah!" Aksara berteriak kaget. 

Anak dan Ayah itu saling berpandangan beberapa menit. Laskar masih menunjukkan raut wajah kesal sementara Aksara masih kaget sekaligus bingung.

"Hai.. Hai, Laskar, Aksara.."

"Selamat pagi Mas Laskar, Mba Aksara.." Wiryo ikut menyapa mereka.

"Masih ingat sama anaknya?" balas Laskar.

Aksara langsung melihat pada Laskar. " Bang.."

"Gue pikir udah hampir setahun gak ketemu udah lupa.." Laskar sedikit ketus.

Aksara tidak menghiraukan ocehan Laskar, "Ayah duduk yah,.."

Pak Abimanyu berusaha menghadapi sikap Laskar. Dia paham kekesalan Laskar adalah hal yang wajar sebagai anak sulung. Laskar selalu salah paham kepadanya, bahwa perceraian itu terjadi karena dirinya yang tidak pernah ada waktu untuk keluarga. Kadang Pak Abimanyu pun mengakui hal tersebut.


"Maaf mba, mas.. bibi ambil minum dulu ya.." Bi Minah mencoba mendinginkan suasana, begitupun Wiryo yang sesekali berdehem.

"Ayah ke sini karena ayah ya ayah kalian. Ayah masih punya dua anak yang harus ayah kunjungi.." jawab pak Abimanyu tegas tanpa menghiraukan raut wajah Laskar.

"Ayah memang harus ke sini. Apapun alasannya, ayah harus ke sini. Minimal ayah pernah ke sini dan ketemu sama kita setahun sekali, daripada Ibuk.."

"Tapi seenggaknya ibuk masih komunikasi sama kita, sms, WA, atau nelp.." sahut Laskar dengan nada kesal.

"Ke Abang doang kan? Bisa diitung berapa kali?"

Wiryo merasa dia tidak pantas berada di dalam obrolan keluarga yang saling melempar kekesalannya. Tiba-tiba dia meminta izin untuk keluar," maaf saya harus terima telpon dulu, saya mau ke luar.."

Pak Abimanyu memahami kondisi tersebut. Dia mempersilahkan Wiryo untuk keluar.

"Harusnya gak usah kesal dulu kalau ada orang lain.."

"Ayah datang mendadak sih.." Aksara segera mengisi sofa kosong di samping Ayahnya.

"Hari ini Ayah mau ngobrol banyak sama kalian.."

**

Hari itu, pertama kalinya Julian kembali gelisah karena tidak melihat Aksara datang ke kantor. Keadaan yang sama juga dirasakan Barata, meski hubungan mereka dalam masa jeda tapi Barata terus mempertanyakan ke mana Aksara hari itu, kenapa dia tidak membalas pesannya, tidak menjawab panggilannya dan masih banyak pertanyaan di benak Barata.

Malam itu Julian dan Barata sama-sama berada di depan rumah Aksara. Tanpa basa-basi, Barata sudah bisa menebak kedatangan Julian untuk menemui Aksara, perasaan cemburu dan kesal mulai berkobar di dalam diri Barata.

Julian yang menyadari kedatangan Barata mulai risih dan takut terjadi kesalahpahaman, "Barata.." sapa Julian cukup canggung.

"Hai Julian. Ngapain? Nyari Aksara?"

"Iya nih. Ada yang mau diobrolin.."

"Oh, kerjaan?"

"Iya.."


Barata menatap Julian dalam. Dia memperhatikan Julian dari atas sampai ke bawah. Sementara Julian mencoba menutupi rasa canggungnya.

"Ah masa? Kok lo rapi amat? Mau ngobrolin kerjaan apa masa lalu?"

Julian berusaha tersenyum untuk menghindari pertengkaran dengan Barata, tapi tampaknya Barata cukup peka. "Hei, lo ngomong apa sih Bara? Ya kerjaanlah. Lo sendiri mau ngapel ya?" ujar Julian sambil tertawa.

**

Bi Minah membuka pagar beberapa menit kemudian. Dua laki-laki itu tetap saling bertatapan.

"Eh mas Barata, Mas Julian. Cari mbak Aksara ya?"

"Iya, ada Bi?" tanpa disadari mereka mengajukan pertanyaan yang sama.

Hening sejenak. Bi Minah tertawa cekikikan khas tawa nenek-nenek. "Hahaha... nanyanya mbok kompak gitu yaa.. Gak ada mbak Aksaranya, lagi keluar.."

Barata mendengus kesal, keinginannya untuk bertemu Aksara tidak terwujud malam ini.

"Kalau boleh tahu ke mana ya bi?" tanya Julian

"Bibi gak tahu Mas Julian. Perginya tadi pagi sama Mas Laskar dan bapaknya.."

Barata seketika menatap Bi Minah, " Hah Bapaknya?"

"Iya... Mas Barata, kalian mau masuk dulu?"

"Gak bi.. makasih.." lagi-lagi mereka menjawab pertanyaan yang sama.

**

Pak Abimanyu mengajak dua anaknya pergi, tepatnya mengajak Laskar dan Aksara untuk jalan-jalan dengannya.

"Ayah sebenarnya mau ngobrol apa jalan-jalan?"

Pak Abimanyu hanya tersenyum. Dia duduk di samping Wiryo yang mengemudi mobil dengan kecepatan sedang. Aksara dan Laskar dibuat bingung dengan tingkah Ayahnya tersebut.

"Yuk turun yuk.."

Laskar dan Aksara melihat keluar jendela, di mana posisi mereka berada. Sebelumnya sang ayah sudah mengajak mereka ke taman, ke kebun binatang, makan dan minum di kafe dan sekarang mereka di ajak Pak Abimanyu ke mall.

"Yah.. kita ini udah gede loh, masa diajak ngemall bareng ayah?" Laskar menggerutu tapi tetap saja turun.

Aksara segera mengikuti sang ayah, begitu juga Wiryo yang selalu siap mengawal. "Udah mas ikut aja, mana tahu disuruh belanja banyak.." rayu Wiryo pada Laskar.

"Kamu inget gak terakhir ke mall sama ayah kapan?" mendadak Pak Abimanyu bertanya.

"Waktu SMP deh kayanya. Terus kenapa sekarang kita ke sini yah?

"Ya ayah pengen ajak kalian ke sini lagi. Kan kalian seneng kalau ke sini, bisa beli mainan atau main game. Biasanya Laskar tuh paling doyan ajak ayah main basket.." Pak Abimanyu memandang Laskar yang berjalan di belakangnya.


Malam itu Pak Abimanyu ingin mengajak kembali Laskar dan Aksara dalam masa-masa bahagia mereka, masa di mana ada kebersamaan dan kehangatan keluarga. Dan mungkin ini salah satu cara Pak Abimanyu membayar kesalahannya di masa lalu.

"Yuk Ayah! Aku udah lama banget nunggu momen ini lagi.." Aksara dengan erat menggandeng tangan sang Ayah.










Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN

PUBLIKASI