LUKA MASA LALU
Aksara benar-benar memastikan kepada Nala, apakah Julian benar-benar layak bekerja di ArtSpace atau tidak. Sebenarnya yang dipastikan Aksara adalah dirinya, bukan kemampuan Julian atau pun keinginannya.
"Ya tuhan.. kenapa semuanya kembali.." Aksara mengumpat di ruang kerjanya. Rasa kecewanya bertahun-tahun muncul seketika. Tidak ada satu pun senyum dari bibir Aksara ketika menyambut Julian. Dia menolak perintah Nala untuk mengantar Julian ke ruang kerja, Aksara menyarankan Tiwi untuk melakukan perintah tersebut.
Hari itu juga, hidup Aksara kembali gusar karena rasa. Hari itu juga, Aksara merasakan kembali luka di masa lalu yang baru berbulan-bulan dia hapus bersama Barata. Dan hari itu juga Aksara mencari-cari Barata di kantor. Karyawan di kantor dibuat kaget oleh Aksara yang tampak histeris kehilangan Barata.
"Ndra.. lo lihat Barata di mana?" Aksara menanyakan Barata kepada salah satu timnya. Barata belum terlihat, di ruang kerjanya, di ruang rapat, di kamar mandi, di taman dan di seluruh ruangan di kantor.
Aksara panik dan takut.
Bukan takut, tapi cemburu. Aksara takut Barata akan cemburu atau bingung seperti yang di alaminya pada Farah.
Bukan takut, tapi cemburu. Aksara takut Barata akan cemburu atau bingung seperti yang di alaminya pada Farah.
Aksara menghela napas dalam-dalam. Dia sedang mengerahkan tenaga untuk mencari Barata kembali. Satu langkah berjalan, Barata memegang pundak Aksara.
"Barata..." tangis Aksara pecah saat itu juga.
**
Julian berusaha menikmati suasana di kantor barunya. Seperti yang dikatakan Nala sebelumnya, Julian sudah memiliki bisnis sendiri tapi karena keinginannya ingin mencoba hal-hal yang baru dan menantang diri untuk berada di zona-zona yang belum pernah dirasakannya.
Buat Julian, hidupnya adalah sedang dalam pencarian dan dia harus terus mencari apa yang dia inginkan sampai dia merasa puas.
"Hai, bro.. baru ya! gue Indra.."
"Hai gue Julian.. bagian apa mas?"
" Gak usah panggil mas, panggil Indra aja. Gue marketing, biasa keluar-masuk pasar.. haha. Lo bagian apa nih? kameranya pada lengkap gini.." lirik Indra pada kamera yang berjajar di hadapan Julian.
"Bagian foto nih mas, kalau itu bagian dari tim siapa ya?"
"Oh bagian fotografi ya , itu bagiannya Aksara, hmm.. mba Aksara, udah kenal belom?"
"Oh.. yang merangkap manajer di sini juga?"
"Kaki tangannya kantor, tangan kanannya pak Nala sih tepatnya. Mau gue kenalin?"
"Ntar aja mas.. hehe... "
"Oke.. gue ke ruangan dulu, kalau ada apa-apa tanya aja sama gue atau yang lain.. tapi satu hal ya.."
"Apaan?"
"Jangan sampe lo naksir Aksara, iya sih banyak cewek cakep di sini, tapi kalau lo liat doi pas kerja beuh... jangan deh, auranya itu beda loh. Tapi udah punya orang, katanya sih.."
"Siapa mas?"
"Barata, gue lanjut kerja dulu ya.."
**
Aksara berusaha menenangkan dirinya. Setelah menceritakan apa yang terjadi kepada Barata, Aksara menjadi lebih tenang. Dia mengalami trauma yang cukup luar biasa, bukan hanya tubuhnya tapi juga perasaannya.
"Udah lo tenang aja, Julian kan masa lalu jadi gak ada yang perlu ditakutin.."
"Iya masa lalu, tapi pas lihat dia rasa kecewa gue jadi balik lagi."
Barata memegang erat tangan Aksara, berusaha menyakinkan bahwa masa lalunya yang terluka tidak akan mengubah kondisi hubungan masa depan mereka yang baru saja bersinar.
"Ada gue Sar, gue bakal ngobatin luka masa lalu lo. Tenang, tenang... lo balik kerja ya.."
Aksara mengangguk dan Barata pun mengantarkannya ke ruang kerja. Keadaan dramatis ini bukan yang diharapkan Aksara, tapi dia tidak bisa menolak ketika Tuhan menyeretnya untuk bertemu dengan masa lalu kembali.
"Aksara.."
Lamunan Aksara berhenti ketika Julian masuk ke ruangannya.
"Aksara.." panggil Julian untuk kedua kalinya.
Aksara berusaha mengembalikan posisi dirinya. Dia berusaha tenang seperti yang diminta Barata. Perlahan-lahan Aksara mengendalikan diri dan menarik dalam napasnya.
"Hai Julian, ada apa?"
"Gue mau kasih proposal untuk gambaran iklan, kebetulan untuk videonya gue yang bertanggungjawab.."
"Oke, gue boleh lihat?"
Kekakuan mulai menghampiri Julian, sementara Aksara sedang memainkan peran masa bodohnya.
"Oke.. ini konsepnya unik, tapi lo mau pake konsep di dalam atau luar ruangan?"
"Sar.. gue mau.."
"Di luar apa di dalam Julian?"
"Sar...!"
"Ini di kantor dan ini masa depan, bukan masa lalu yang harus diselesaikan.."
"Tapi Sar.. gue harus ngejelasin sesuatu.."
"Gue butuh lo ngejelasin ini konsep, di luar atau di dalam?"
"Di luar.." jawab Julian putus asa tanpa ada ruang untuk penjelasan terkait hubungan mereka.
**
Julian berusaha menikmati suasana di kantor barunya. Seperti yang dikatakan Nala sebelumnya, Julian sudah memiliki bisnis sendiri tapi karena keinginannya ingin mencoba hal-hal yang baru dan menantang diri untuk berada di zona-zona yang belum pernah dirasakannya.
Buat Julian, hidupnya adalah sedang dalam pencarian dan dia harus terus mencari apa yang dia inginkan sampai dia merasa puas.
"Hai, bro.. baru ya! gue Indra.."
"Hai gue Julian.. bagian apa mas?"
" Gak usah panggil mas, panggil Indra aja. Gue marketing, biasa keluar-masuk pasar.. haha. Lo bagian apa nih? kameranya pada lengkap gini.." lirik Indra pada kamera yang berjajar di hadapan Julian.
"Bagian foto nih mas, kalau itu bagian dari tim siapa ya?"
"Oh bagian fotografi ya , itu bagiannya Aksara, hmm.. mba Aksara, udah kenal belom?"
"Oh.. yang merangkap manajer di sini juga?"
"Kaki tangannya kantor, tangan kanannya pak Nala sih tepatnya. Mau gue kenalin?"
"Ntar aja mas.. hehe... "
"Oke.. gue ke ruangan dulu, kalau ada apa-apa tanya aja sama gue atau yang lain.. tapi satu hal ya.."
"Apaan?"
"Jangan sampe lo naksir Aksara, iya sih banyak cewek cakep di sini, tapi kalau lo liat doi pas kerja beuh... jangan deh, auranya itu beda loh. Tapi udah punya orang, katanya sih.."
"Siapa mas?"
"Barata, gue lanjut kerja dulu ya.."
**
Aksara berusaha menenangkan dirinya. Setelah menceritakan apa yang terjadi kepada Barata, Aksara menjadi lebih tenang. Dia mengalami trauma yang cukup luar biasa, bukan hanya tubuhnya tapi juga perasaannya.
"Udah lo tenang aja, Julian kan masa lalu jadi gak ada yang perlu ditakutin.."
"Iya masa lalu, tapi pas lihat dia rasa kecewa gue jadi balik lagi."
Barata memegang erat tangan Aksara, berusaha menyakinkan bahwa masa lalunya yang terluka tidak akan mengubah kondisi hubungan masa depan mereka yang baru saja bersinar.
"Ada gue Sar, gue bakal ngobatin luka masa lalu lo. Tenang, tenang... lo balik kerja ya.."
Aksara mengangguk dan Barata pun mengantarkannya ke ruang kerja. Keadaan dramatis ini bukan yang diharapkan Aksara, tapi dia tidak bisa menolak ketika Tuhan menyeretnya untuk bertemu dengan masa lalu kembali.
"Aksara.."
Lamunan Aksara berhenti ketika Julian masuk ke ruangannya.
"Aksara.." panggil Julian untuk kedua kalinya.
Aksara berusaha mengembalikan posisi dirinya. Dia berusaha tenang seperti yang diminta Barata. Perlahan-lahan Aksara mengendalikan diri dan menarik dalam napasnya.
"Hai Julian, ada apa?"
"Gue mau kasih proposal untuk gambaran iklan, kebetulan untuk videonya gue yang bertanggungjawab.."
"Oke, gue boleh lihat?"
Kekakuan mulai menghampiri Julian, sementara Aksara sedang memainkan peran masa bodohnya.
"Oke.. ini konsepnya unik, tapi lo mau pake konsep di dalam atau luar ruangan?"
"Sar.. gue mau.."
"Di luar apa di dalam Julian?"
"Sar...!"
"Ini di kantor dan ini masa depan, bukan masa lalu yang harus diselesaikan.."
"Tapi Sar.. gue harus ngejelasin sesuatu.."
"Gue butuh lo ngejelasin ini konsep, di luar atau di dalam?"
"Di luar.." jawab Julian putus asa tanpa ada ruang untuk penjelasan terkait hubungan mereka.
Komentar
Posting Komentar