JARAK

Semenjak mengantarkan Aksara pulang untuk pertama kalinya, Julian merasa jarak antara dirinya dan Aksara mulai pudar. Jarak itu memudar seiring dengan berjalannya waktu dan seiring kesempatan yang diberikan Aksara untuknya.

Jauh-jauh hari Julian mempersiapkan diri untuk memberi penjelasan kepada Aksara. Masa ini adalah masa dia benar-benar ingin bertemu Aksara, ingin datang kembali dan ingin memohon maaf pada Aksara. Dia tahu seberapa salahnya, dia tahu seberapa kecewanya Aksara dan Julian sudah bersiap untuk membayar semua itu.


Di lain tempat, Barata terus memikirkan nasibnya dan penjelasan yang didapatnya dari Farah. Nasib percintaannya dengan Aksara belum genap menyentuh satu tahun, sementara Farah, cinta pertamanya datang kembali memohon perdamaian dengannya.

"Kalau gini terus lama-lama gue bisa gila, fuck!" Barata gusar. Hari itu juga, dia ingin menemui Aksara dan mengajaknya ngobrol, lagi-lagi Aksara menolak.

Barata semakin cemas, sebelumnya Aksara sudah menceritakan apa yang telah disepakatinya dengan Julian. Barata tidak keberatan, dia harus bersikap adil.

"Gue rasa adil, lo kasih gue kesempatan untuk mendengar penjelasan dari Farah.."

"Iya, gue juga mikir gitu"

"Tapi jangan sampai ada sekat di antara kita"

"Maksud lo?"

"Gue ngerasa lo beda Sar.." Barata berterus terang atas kecemasannya waktu itu pada Aksara.

"Bukannya lo yang beda ya? Bukannya lo yang ngasih jarak?"


Percakapan itu menggantung. Diakhiri dengan keinginan Aksara untuk pulang. Barata tidak mau memulai pertengkaran dan jadilah obrolan mereka terasa mulai hambar tanpa ada obrolan manis tentang misi masa depan.

**

"Sara.." Julian menarik tangan Aksara ketika pulang kantor.

"Eh lo, kenapa? Kaget tau gue."

"Ikut gue yuk! Gue bakal mulai penjelasan itu sama lo.. free kan? atau ada janji sama Barata?"

"Enggak kok. Gue free, Barata juga lembur kayanya.." ujar Aksara sambil melirik ke dalam kantor.



Sore yang cerah untuk Julian memulai penjelasannya kepada Aksara. Dia ingin menjelaskannya dengan tenang tanpa ada rasa ragu dan takut. Sore itu, sepulang kerja. Julian dan Aksara duduk di taman kota, pertama kalinya mereka pergi berdua setelah lima tahun berlalu.

"Hari ini gue gugup.."Julian mengakui perasaannya pada Aksara.

"Kenapa?"

"Pertama kali gue ketemu dan jalan lagi sama lo.."

"Aneh, biasanya gak pernah ke taman.."

"Iya iya, biasanya hujan-hujan mulu, hahaha.."


Mereka memulai percakapan dengan basa-basi yang lama-kelamaan terasa sangat menjemukkan. Julian merasakan kekakuan, sementara Aksara terus menunggu Julian memulai penjelasannya.

"Lo gak akan mulai?" Tangan Aksara mengenggam kuat tali tasnya untuk menghilangkan rasa gugup.

Julian memandang Aksara dan menghela napas panjang.

"Beberapa hari yang lalu gue udah bilang sama lo, kalau gue gak punya alasan atau alibi.."

"Terus?"

"Uh.. jujur gue bingung, gue harus mulai dari mana Sar. Tapi ini semua salah gue, gue udah buat lo kecewa, buat lo bingung sama sikap dan tingkah gue.. gue benar-benar bingung Sara.."

"Julian, kesempatan ini cuma satu kali. Jangan buang-buang waktu untuk kebingungan lo."


Julian memperbaiki posisi duduknya. Tepat dihadapan Aksara, matanya menatap dalam kepada Aksara. Dia ingin sekali mengenggam tangan perempuan itu, tapi mustahil dilakukan. Julian sadar betapa tersiksanya Aksara menunggu sebuah penjelasan darinya.


"Gue gak tahu apa yang sebenarnya gue mau. Waktu itu gue sama lo, gue ngerasa nyaman dan senang banget sama lo. Gue bingung, apakah gue suka sama lo atau gue cuma sekedar nyaman doang."

"Terus?"

"Gue laki-laki bodoh sih Sar, gue plin-plan dan gue gak paham apa yang diri gue mau waktu itu.."

"Ini bukan alasan kan?"

"Terserah lo mau anggap apa, gue rasa gue gak punya alasan khusus sih.."

"Intinya, kenapa lo menghilang?"

"Ya, disaat gue bingung dan disaat gue gak tahu apakah lo suka, apakah lo nyaman, gue malu buat nanya sama lo karena lo selalu nganggap gue teman terbaik. Gue sumpah bingung!  Gue juga gak mau lo ngejauhin gue suatu hari nanti kalau-kalau gue nyatain perasaan gue sama lo. Dalam kondisi dan keadaan yang sama gue ternyata juga semakin dekat sama  seseorang. Dan itu kebodohan gue.."

"Siapa?"

"Yasmin.."

"Yasmin?."

"Gue sama Yasmin gak sengaja ketemu di aula Fakultas, pertama kalinya. Mungkin itu laki-laki, suka melihat apa yang pertama dilihatnya. Gue rasa gue mulai jatuh cinta sama Yasmin, sementara posisi gue dan lo selalu lo anggap teman dekat yang sebenarnya teman.."
"Terus kenapa lo berlebihan ke gue? Gue.." Aksara mengangkat tangannya, meminta Julian untuk menghentikan penjelasannya. Dia menghela napas sangat dalam.

"Gue rasa hari ini cukup. Kayanya aneh aja gitu, kita ngobrolin hal yang menurut gue tuh seharusnya gak terjadi," lanjut Aksara dengan mata yang mulai basah.


**

Farah dan Barata akhirnya bertemu kembali. Kali ini, Barata yang mengajak Farah untuk bertemu. Bukan maksud untuk menyakiti hati Aksara atau pun memberikan kesempatan kepada Farah, namun ada hal yang benar-benar harus diselesaikan antara dia dan Farah.

"Wah.. tumben Bar kamu ajak aku ketemuan.."

"Jangan berharap apapun, aku cuma mau penyelesaian yang baik. Pikiran aku tetap gak akan berubah, apalagi perasaan aku.."

"Tapi Barata... aku udah berubah, aku udah jelasin semuanya ke kamu. Kita bisa mulai dari awal dengan baik-baik.."

"Udah deh gak usah mulai lagi. Gue cuma mau lo memperbaiki semuanya"

"Maksud kamu?"

"Kita selesaikan persoalan masa lalu dengan baik, setelah itu aku dan kamu gak perlu ketemu, gak perlu ngobrol atau apapun lagi.."

"Kamu mau aku ngapain?"

"Temui Aksara, temui pacarku dan jelasin semua penjelasan yang udah kamu kasih ke aku.."


**

Laskar dan Nala malam itu janjian untuk bertemu. Tidak hanya sekedar melepas rindu, dua sahabat ini ingin membicarakan Aksara. Lagi-lagi obrolan Laskar dan Nala tidak akan jauh dari adik perempuan mereka, Aksara.

"Apa perlu gue kawinin ya itu anak?"

"Gila lo, seumuran kita aja belum kawin.." celetuk Nala yang asik menghisap rokoknya.

Seperti biasa, acara temu kangen Nala dan Laskar lebih seperti pesta. Rokok, minuman, makanan bertebaran di mana-mana dan rumah Laskar selalu menjadi pilihannya.

"Ya biasanya kan akan cewek kalau udah nikah lebih aman.."

"Sama siapa Kar? sama gue? Haha gak akan maulah.."

"Iyalah gak akan. Gue juga gak sudi hahahaha..."

"Tapi sebenarnya ada apa ya? Aneh gue, Julian masa lalunya, Barata masa depannya. Lah kenapa uring-uringan gitu di kantor gue.."

"Kalau gue tahu gue gak bakal terus nanyain adek gue dong sama lo"


Pintu rumah dibuka, jam menunjukkan pukul 10 malam. Aksara masuk dengan ekspresi sangat kesal dan membanting pintu. Dia mengabaikan Nala dan Laskar yang sedang asik mengobrol di ruang tamu.

"Eh.. ada orang kali di sini.." cegat Laskar.

"Gue capek bang, gue mau masuk ke kamar dulu. Sorry ya Nal.."


Laskar dan Nala hanya bisa terdiam.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN

PUBLIKASI