NOSTALGIA
Hujan tak henti-hentinya turun hari itu. Kadang deras, kadang
gerimis, kadang berhenti lalu deras kembali. Langit tidak mengizinkan
matahari bersinar kali ini, hanya ada mendung dan guratan hitam di
awan.
"Hujannya awet, lo gak mau main?" Mereka sedang menuju keluar parkiran.
"Hujannya awet, lo gak mau main?" Mereka sedang menuju keluar parkiran.
"Main hujan?"
"Iya, semenjak..."
Tiba-tiba Aksara memotong ucapan Julian,"Masih harus dibahas ya?"
"Sar..!" Julian menarik tangan Aksara. " Gue tau gue salah. Tapi apa lo gak bisa ngasih gue kesempatan buat ngejelasin, kasih gue ruang buat bicara tanpa menjauh dari gue?"
Aksara menatap Julian, lalu membuang muka. Memperjelas keadaan kesalnya terhadap Julian.
"Kesalahan itu memang kebodohan gue.. tapi gue punya alasan, ah enggak! Gue gak punya alasan.."
"Terus kenapa lo minta gue kasih kesempatan buat ngejelasin kalau lo gak punya alasan?"
"Gue cuma mau kasih penjelasan sama lo.."
Percakapan malam itu disaksikan oleh hujan, petir dan angin yang saling bersahutan. Julian dan Aksara sama-sama keras mempertahankan keegoaan masing-masing, namun tetap harus ada yang luluh.
"Gue bisa kasih lo kesempatan.."
"Oke dan gue cuma minta satu kali aja.."
**
"Lo di mana Sar?" Barata baru menghubungi Aksara.
"Gue udah jalan pulang.."
"Maaf ya gue gak angkat telp lo. Tadi lagi sibuk. Gimana keadaan bang Laskar?"
"Udah baik. Udah boleh pulang.."
"Oh ya udah. Lo buru-buru pulang ya.. Jangan sampe kehujanan nanti kena flu."
"Oke.."
"Sar?"
"Gue udah mau jalan, udah dulu ya. Bye"
Dan hari itu juga, kesalahpahaman yang selanjutnya terjadi. Jika sebelumnya kesalahpahaman itu tidak membekaskan apa-apa bagi Aksara, kali ini membekaskan banyak tanda tanya. Seperti ada sekat-sekat yang membatasi hubungannya dengan Barata, terlebih sejak Farah kembali.
"Barata ya?"
"Iya.. " Aksara memandangi langit yang mulai gelap.
Perjalanan pulang pun dimulai. Semula hanya ada ketegangan dan keengganan di antara mereka. Tidak ada yang menarik hanya ada tarik ulur untuk memulai percakapan.
Langit semakin gelap, Julian memacu motornya. Tiba-tiba rintik hujan mulai membasahi aspal satu per satu. Petir menyambar satu per satu dan hujan deras turun perlahan.
Julian tidak berhenti ia justru memacu motornya lebih cepat.
"Lo mau ngebunuh gue ya?"
"Gue rasa lo masih suka hujan Sar.."
Hening. Diam-diam Aksara menikmati hujan yang turun. Dia mencoba melepaskan segala gundahnya terhadap Barata, terhadap kejadian hari ini dan menikmati hujan hari ini bersama Julian.
"hah, kenapa gue harus menikmati hujan sama lo?"
Julian tiba-tiba berhenti dan hujan masih mengguyur dengan deras. Dia turun dan membiarkan hujan dengan bebas membasahi tubuhnya.
"Lo mau ngebunuh gue ya?"
"Gue rasa lo masih suka hujan Sar.."
Hening. Diam-diam Aksara menikmati hujan yang turun. Dia mencoba melepaskan segala gundahnya terhadap Barata, terhadap kejadian hari ini dan menikmati hujan hari ini bersama Julian.
"hah, kenapa gue harus menikmati hujan sama lo?"
Julian tiba-tiba berhenti dan hujan masih mengguyur dengan deras. Dia turun dan membiarkan hujan dengan bebas membasahi tubuhnya.
"Biarpun lo udah gak mau hujan-hujanan sama gue lagi, gue tetap mau sama lo. Karena beda hujan-hujanan lo.."
Aksara hanya bisa terdiam mendengar ucapan Julian. Dia berusaha menikmati hujan yang semakin deras dan perlahan-lahan benar-benar menikmati.
"Aksara! Sini, di sini hujannya lebih kerasa deras.." Julian meneriaki Aksara yang hanya mematung di pinggiran Jalan.
**
Malam itu terasa sangat panjang dan hangat, meski basah kuyup. Julian mengantarkan Aksara sampai ke depan pintu rumahnya. Setelah bermain hujan semalaman, Julian berharap bisa memulai penjelasannya kepada Aksara dengan lebih tenang.
"Makasih ya.."
"Buat?"
"Iya lo udah nganterin gue pulang."
"Oh, gapapa. Lagian kan kakak lo yang minta.."
"Hem iya.. ya udah gue masuk dulu.."
"Eh Sar.." Julian mencegat Aksara sebelum masuk. "Makasih juga ya.."
"Buat apa?"
"Lo udah mau main hujan sama gue.."
"Gak perlu makasih kali.."
"Perlu. Karena gue udah lama banget pengen main hujan sama lo dan hari ini lo kasih gue kesempatan itu.."
Aksara tersenyum untuk pertama kalinya pada Julian. Pertama kalinya juga, rasa kecewa Aksara mulai memudar dari Julian dan dia mulai mencoba membuka hatinya untuk menerima apapun penjelasan Julian dan hanya penjelasan saja.
"Gue kasih kesempatan lo buat menjelaskan semuanya, penjelasan Julian.."
"Iya, gue ngerti.. ya udah lo masuk gih ntar demam lagi.. gue balik ya.." ujar Julian sambil menepuk pundak Aksara.
Malam itu mereka berpisah setelah lama terpisahkan oleh waktu, oleh rasa penasaran dan oleh kekesalan. Aksara menunggu Julian pergi, dia menatap Julian sangat lama hingga tidak terlihat lagi.
Komentar
Posting Komentar