UCAPAN RINDU
Pertemuan Pak Abimanyu dan kedua anaknya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Wiryo sang asisten, tidak lupa untuk mengabadikan momen mereka bermain bersama, bercengkrama atau saling tertawa. Wiryo bukan hanya sekedar asisten untuk Abimanyu, tapi juga menjadi tempat curhatannya.
"Gimana gambarnya bagus gak?" tanya pak Abimanyu sambil mengecek kamera Wiryo
"Bagus pak, tenang saja. Saya kan sudah tahu gimana gaya andalan bapak.. begini kan?" Wiryo mengacungkan jempolnya dengan mantap.
Laskar mulai luluh dengan ayahnya, perlahan-lahan rasa kesalnya mulai hilang. Seharusnya Laskar tidak marah pada Pak Abimanyu, dia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Perceraian antara bapak dan ibunya bukan karena kesalahan sang ayah, tapi ketidaksetiaan sang ibulah penyebabnya. Mungkin suatu hari nanti Aksara akan benar-benar tahu apa penyebabnya.
"Nah, sekarang giliran saya sama jagoan saya nih Wir! Ayo cepet fotoin keburu ngambek nih.." sorak pak Abimanyu sambil merangkul erat Laskar yang sedang berdiri.
Laskar membalas rangkulan sang ayah. Dia tersenyum, menyatakan bahwa waktu perdamaian sudah dimulai.
"Apapun yang terjadi, ayah tetap salah tapi ayah tetap ayah kalian. Jangan terus-terusan menyimpan kesal kalau sebenarnya kamu rindu pada ayah.."
"Ayah kan tahu kalau kadar ego kita sama, apalagi gengsi.." balas Laskar sambil memeluk sang Ayah.
Aksara yang keluar dari sebuah minimarket terkejut dengan adegan pelukan sang ayah dan abangnya.
"Wah..wah momen langka nih. Kok bisa damai? ada apa hem? aku ketinggalan apa?" Aksara menggoda pak Abimanyu dan Laskar sambil membagikan kopi mereka.
***
"Aksara.. Aksara.."
Barata berlarian mengejar Aksara yang baru tiba di kantor. Hari itu, Aksara sangat bahagia sekali. Bukan hanya bertemu dengan ayahnya saja, tapi mereka menghabiskan waktu semalaman bersama. Seperti kebiasaan waktu kecil, mereka saling berebut cerita pada ayah dan terlelap dipelukan ayah.
"Oh Barata. Ada apa ya?"
"Kenapa sih lu harus bersikap sekaku ini?"
"Gue gak kaku, gue justru lagi seneng banget.."
"Oh gitu. Mungkin lu berpikir kita bukannya udah jeda, tapi malah udah gak ada hubungan ya Sar..?"
"Maksud lu?"
"Aah.. gue cuma mau kasih ini aja sama lu.." Barata menyodorkan amplop berwarna putih pada Aksara.
Awalnya Aksara ragu menerima, tapi dia tetap mengambil amplop tersebut.
"Gue juga udah ngasih ke Nala juga kok. Jadi lu nggak perlu repot.."
"Okeh. Gue buka nanti.."
"Semoga lu gak kecewa sama keputusan gue yang mungkin ngaco atau pengecut ini.."
"Ya.. semoga.." Aksara mulai merasa ada yang aneh.
"Satu lagi Sar.. Gue kangen banget sama lu. Gue rindu sama lu.."
"Bara.."
"Boleh ya gue meluk lu sekali ini aja, please!" Tanpa menunggu jawaban Barata pun langsung memeluk erat Aksara.
Beberapa menit selanjutnya, Aksara baru mengetahui bahwa Barata sudah mengundurkan diri dari perusahaan Nala.
"Gue pikir lu udah tahu Sar, makanya gue nanya kenapa.."
"Sama sekali gue gak mikir.. eh tapi kenapa ya?"
Aksara pun mulai gelisah dan penasaran dengan isi surat Barata.
***
Barata mengundurkan diri. Julian merasa ada peluang yang terbuka lebar untuknya masuk ke dalam kehidupan baru Aksara. Tapi dia masih harus mencari celah, dari mana dia masuk.
"Hai Sar, mau makan siang?"
"Iya Julian.."
"Mau bareng gak?"
"Kayaknya gak deh. Gue lagi pengen sendiri.."
"Lu masih sedih ya karena Barata resign? Kalian juga putus? Maaf kalau gue lancang.."
"Gue rasa itu privacy gue. Gue duluan.." Aksara tidak mau memperpanjang urusannya dengan Julian.
Aksara makan siang di kafe biasa dia makan bersama Barata. Kesunyian mulai menghampirinya. Sudah hampir satu minggu Barata meninggalkan kantor, tapi surat darinya sama sekali belum dibaca Aksara.
Tempat favorit Aksara adalah di sudut kafe. Dia sedang memegang surat pemberian Barata. Dia memutar-mutar amplop berwarna putih itu. Untuk membaca surat dari Barata dia membutuhkan nyali yang kuat, dia belum siap harus menerima rasa sakit yang dibekaskan oleh Julian.
Hampir satu jam memutar-mutar kertas di meja, akhirnya Aksara membuka surat Barata perlahan-lahan.
Komentar
Posting Komentar