TITIK TEMU

"Lu dimana Kar?" Nala menghubungi Laskar di mobil setelah keluar dari kantor.

"Ini baru nyampe rumah. Napa? Mau mampir lu?"

"Enggak, hari ini ada orang gak ke rumah lu? Mbak-mbak gitu.."

"Hmm.. enggak kayanya, eh bentar tapi si bibi lagi bukain pintu.." Laskar melangkah kembali keluar.

"Oke, ntar kabarin gue. Kayaknya ada yang gak beres sama adek lu.."

**

Seharian penuh Aksara ditemani Julian. Menemui satu per satu klien sesuai jadwalnya. Ini bukan permintaan Aksara, tapi keinginan Julian sendiri dengan dalih akan menjelaskan kembali tentang kesalahannya di masa lalu.


"Masih ada pertemuan lagi hari ini? Lu masih kuat gak naik motor? apa mau diganti sama mobil?" Julian menawarkan dengan sumringah.

Aksara segera mengambil helm yang menggantung di spion Julian. Dia memakainya dengan cepat," Udah yuk, cepet kita kelarin tentang penjelasan lu.."

Julian tidak bisa membalas lagi melihat wajah Aksara yang sudah mulai lelah. Malam itu Aksara memaksa Julian untuk menyelesaikan penjelasannya, dia semakin ingin cepat menyelesaikan persoalannya dengan Julian setelah membaca surat dari Barata. Kali ini Barata benar, dia seperti lupa akan komitmen bersama mereka.


"Sar, lu yakin mau dengerin penjelasan gue?"

Sambil menyedot minumannya, Aksara mengangguk.

Julian memulai lagi penjelasannya. Entah apalagi sebenarnya yang akan dijelaskan Julian, intinya kesalahan itu tetap ada dirinya. Dia hanya laki-laki yang telah menyakiti Aksara, tidak punya pilihan dan sudah terlambat untuk mengakui kesalahan.

Aksara mulai jengah, dia tahu penjelasan Julian akan selalu ada jeda, selalu ada intrik untuk menunda-nunda.

"Penjelasan lu selalu saja ada isi menyalahkan diri sendiri. Pada akhirnya semua udah terjadi Julian, jangan terus-terusan menyalahkan diri lu.."

'Tapi emang itu yang terjadi kan Sar. Gue gak punya alasan lagi. Gue cuma bisa mengulang-ulang momen di mana kita bersama, sampai-sampai gue lupa.. "

"Lupa apa?"

"Lupa kalau lu udah pernah ngelupain gue, udah pernah memulai kisah yang baru bersama orang lain.."


Aksara mendegus. Dia menyerumput minuman dengan cepat. Julian salah tingkah, dia menyadari ada kesalahan kalimat atau mungkin kegamblangannya mulai dipahami Aksara.


" Tujuan lu sebenarnya apa Julian? Gue gak mau basa-basi lagi. Hampir satu bulan gue menunggu lu untuk menjelaskan kenapa lu pergi tanpa kabar, tapi yang gue dapat lu selalu mengulang masa lalu. Buat gue itu gak berkesan dan tidak akan pernah ada artinya lagi.."

Julian diam seribu bahasa. Dugaannya benar, siasatnya salah. Pintu hati Aksara sudah tertutup untuknya.

Aksara melanjutkan," jadi untuk apa kita buang-buang waktu, maksudnya gue buang-buang waktu gue mendengarkan semua keluhan-keluhan lu yang udah berlalu? Jawabannya udah jelas, lu ninggalin gue karena ragu, apa sebenarnya lu sayang sama gue atau cuma sekedar butuh gue aja? benar kan?"


Julian diam seribu bahasa. Aksara mengemasi barang-barangnya dan buru-buru keluar dari kafe tempat mereka berbicara. 


"Sara..tunggu!" Julian mengejar Aksara yang sedang berusaha mendapatkan taksi.

Dramatis. Aksara sangat membenci keadaan ini dalam hidupnya.

"Stop Julian. Lu udah buat gue jauh dari Barata, buat gue bingung sama pilihan gue dan juga lupa. Waktu lu udah habis buat menjelaskan segala-sesuatunya." Taksi akhirnya berhenti, Julian melepaskan tangan Aksara perlahan.


***

"Oh jadi mbak Farah ini mantannya Barata?"

"Iya Mas. Maaf kalau malam-malam ke sini saya cari Aksara.."

"Aksaranya belum pulang. Gimana ya mbak? Mau nungguin?"

"Jadwal keberangkatan saya semakin dekat Mas, saya harus balik. Boleh gak kalau saya titip ini buat Aksara?"

"Ini apa ya mbak?" Laskar mengambil amplop berwarna coklat yang di taruh Farah di atas meja.

Farah awalnya ragu akan menitipkan amplop itu pada Laskar, tapi dia tidak bisa menunggu Aksara lagi. Dia harus segera kembali ke kotanya, melupakan Barata dan kembali ke kehidupan rumah tangganya. Dia sudah kalah dan salah dalam tindakannya, tidak ada yang bisa dipertahankan lagi, termasuk Barata.

"Tolong kasih aja sama mbak Aksara ya Mas. Buat dia kok.." ujar Farah sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian Farah pamit. Tidak lama Aksara pun sampai di rumah dengan wajah masih kesal. Laskar masih duduk di ruang tamu sambil menatap amplop berwarna coklat itu.

"Lu udah pulang bang?" sapa Aksara sambil menghempaskan badannya di sofa sebelah Laskar.

"Tuh.. titipan buat lu"

Aksara langsung mengambil amplop tersebut," apaan nih?"

"Dari si mbak-mbak yang namanya Farah.."

Aksara kaget begitu mendengar nama Farah dia buru-buru membuka amplop tersebut. Isinya sehelai surat yang ditulis tangan oleh Farah, fotokopi surat nikah dan sebuah recording. Aksara membaca cepat surat itu dan mendengarkan suara dari dalam recording.


"Bang.. gue keluar bentar ya.." tiba-tiba Aksara buru-buru pamit pada Laskar.

"Aksara, lu mau ke mana??"


Dan hening, Aksara sudah menancap gas mobilnya sebelum menjawab Laskar.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN

PUBLIKASI