SURAT DARI BARATA

Untuk Aksaraku...



Semga kamu dalam keadaan bahagia ketika membuka surat dari aku, Beh. Sebenarnya aku tidak tahu harus dari mana memulai surat ini. Banyak hal yang ingin disampaikan, ingin dijelaskan tapi kamu terlalu sibuk atau bahkan marah sama aku. Tapi aku juga tidak bisa menduga apakah kamu cemburu dengan masa laluku? Aku berharap iya, katanya kalau cemburu pertanda cinta. Dan semoga kamu cinta aku.

Hubungan kita memang belum genap setahun. Pendekatan yang kita jalani juga singkat, instan dan tidak banyak basa-basi. Aku kira kita punya cara berhubungan yang unik dan beda. Dan aku suka itu, aku suka kamu dan cara kamu yang membuat aku makin lama, makin jatuh hati. Benar katamu, kamu memang tidak cantik dan manis, tapi kamu punya sesuatu yang membuat aku slalu melihat kamu cantik, manis dan tentunya baik.

Kamu boleh berpikir jika ini surat gombalan untuk meminta maaf, terserah! tapi ini adalah apa yang benar ingin aku ceritakan.

Aksara. 

Untuk beberapa waktu ini, aku kehilangan kamu. Kehilangan senyumanmu, kehilangan tawamu dan bahkan kehilangan waktumu. Aku akui, aku kehilangan itu semenjak Julian hadir. Dan aku cemburu.

Memang kita sudah membuat kesepakatan untuk menyelesaikan masa lalu masing-masing. Aku memberi kamu waktu dan kamu pun sebaliknya. Tapi kenapa kamu seakan-akan mengabaikan aku? dan memberi begitu banyak waktu penjelasan pada Julian yang sampai detik ini kamu pun sudah tahu penjelasan Julian apa. 

Apa kamu sadar, kamu mengabaikan aku ? Semoga sadar, terlebih setelah kamu mengajak aku untuk menjeda hubungan ini. Kamu tahu? Aku sangat marah, sedih dan kesal. Tapi aku tidak bisa memperlihatkan semuanya sama kamu. Itu akan menyakitkan dan menyedihkan, karena aku sudah berjanji tidak akan membuat kamu sedih atau merasa tersakiti..

Aksara, mungkin tindakanku untuk keluar dari kantor adalah hal pengecut. Mungkin, tapi bukankah akan lebih pengecut bila aku diam-diam menyimpan rasa cemburuku? Melihat kamu setiap hari berdua dengan Julian? Dengan alasan untuk mendapat penjelasan? Itu lebih pengecut lagi Aksara..


Dan aku pun tidak menyalahkanmu di sini. Aku mengikuti caramu untuk jeda. Memberimu waktu untuk berpikir dan melampiaskan semua rasa sakitmu pada Julian, silahkan. Namun jangan lupakan jeda kita, beri aku kesempatan untuk tetap memilikimu, aku akan tunggu kamu.. 

Sementara waktu aku tidak akan menghubungi kamu sampai kamu yang menghubungiku. Artinya, kamu sudah siap bukan untuk memulai misi masa depan kita lagi?


Cukup sekian ceritaku ini, semoga kamu paham dengan keputusan yang aku ambil Aksara. Bergegaslah membuat sebuah keputusan selanjutnya. Tapi jika hati kamu meragu, jangan mendua, tapi jelaskan secara jelas padaku, semoga aku siap dengan baik.



Baratamu, sang kapten misi masa depan.



***


Setelah membaca surat Barata dengan penuh penghayatan, perlahan-lahan air mata Aksara menetes menjatuhi kertas surat. Perasaannya berkabung dan sunyi segera menyergapinya. Kafe tempat dia makan siang hari itu  masih sepi, Aksara menangis sepuasnya tanpa ada yang menyadari. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN

PUBLIKASI