SIASAT UNTUK KEMBALI
Setiap orang kadang punya kesempatan kedua dalam sebuah kondisi. Sederhananya, setiap orang punya waktu untuk kembali atau mengulang semua momen. Tapi tidak semua orang pula mau mengakui bahwa mereka butuh kesempatan kedua atau butuh waktu untuk kembali. Mereka yang kembali itu kadang mereka yang berbuat salah atau pernah khilaf, ingin kembali untuk memperbaiki keadaan atau memulai kisah yang baru. Entahlah..
Tapi Julian melakukan itu. Dia sedang menyusun siasat untuk kembali pada Aksara. Lama dia memikirkan cara untuk kembali atau memulihkan kondisi. Dia mengaku salah, tapi tidak mengaku bahwa butuh kesempatan kedua. Dia pun mulai dengan siasatnya tanpa Aksara sadari.
**
"Barata, kamu di mana?"
"Ada apa?"
"Lagi ngurusin proyek baru.."
"Lagi sama Aksara gak?"
"Ngapain lo nanya Aksara?"
"Aku mau ngikutin permintaan kamu. Aku bakal nemuin Aksara.." ujar Farah.
Sebelumnya Barata memang meminta Farah untuk menemui Aksara. Dia ingin Farah menjelaskan semua yang terjadi di masa lalu dan penyelesaian di masa depan apa yang telah mereka sepakati. Barata lama terdiam dan akhirnya mempersilahkan Farah untuk menemui Aksara jika memang itu benar dilakukannya.
"Silahkan aja lu datang ke kantornya. Kalau benar-benar niat lu baik Far.."
"Oke lihat aja ntar. Aku udah berubah kok Bar, bukan perempuan yang suka pergi dari masalah.." balas Farah menyakinkan Barata, seketika telpon ditutupnya.
**
Hari ini Julian sangat bersemangat. Dia seperti sudah mendapat wangsit bagaimana cara mendekati Aksara lagi. Kalau dipikir-pikir akan sangat mudah. Barata dan Aksara sudah tidak berhubungan, Nala? Nala hanya sebatas kakak tanpa ikatan darah bagi Aksara. Kali ini jalannya akan terasa mulus dan mudah untuk meluluhkan hati Aksara.
"Ya, semua butuh proses! Gue percaya Aksara pasti masih luluh sama gue.."
Dan Aksara pun keluar dari ruangannya. Julian langsung mendekati Aksara yang berjalan menuju keluar kantor.
"Hai Sar!"
"Oh Hai.." balas Aksara sambil membolak-balik tumpukan kertas di tangannya.
Julian tersenyum melihat wajah Aksara yang sangat serius. Kemudian mengambil tumpukan kertas di tangan Aksara.
"Lu ngapain sih? itu gue lagi baca naskahnya.."
"Udah ntar aja, jam makan siang nih. Hari ini lu bakal dengerin penjelasan gue lagi gak?"
Aksara merubah posisi berdirinya menjadi berhadapan dengan Julian. Dia menatap Julian sekilas, lalu mengambil kembali tumpukan naskahnya.
"Waktu lu buat ngejelasin penjelasan itu terlalu panjang dan bolak-balik.. lama banget ya! Gak bisa dipersingkat aja apa?"
"Oh.. santai dong. Bukannya kita udah sepakat buat damai sementara sampai lu dapat penjelasan dari gue?"
"Oke. Gue kasih lu waktu sekarang dan besok.."
"Siap! Berarti hari ini bisa ya makan siang bareng.."
Aksara hanya membalas dengan senyum kecilnya.
***
Di siang hari yang sama, Farah mencoba menemui Aksara di kantornya. Namun sayang jadwal kerja Aksara begitu padat hari itu. Farah menunggunya sampai sore, tapi Aksara tidak kunjung datang.
"Mas.. mau nanya yang namanya Aksara belum datang ya?" Farah bertanya pada Nala yang kebetulan lewat lobby.
"Wah.. Aksara hari ini lagi banyak ketemu klien tuh. Ada apa ya mba? Mbak ini siapa?"
"Saya temannya.. boleh gak saya minta alamatnya Aksara? Soalnya saya cuma bisa satu hari lagi di kota ini.."
"Oh boleh, boleh. Ini mba.." Nala menyodorkan kartu nama Aksara.
Farah menerima kartu nama tersebut dan langsung pamit kepada Nala. Sementara Nala masih bertanya-tanya siapa Farah sebenarnya.
"Saya temannya.. boleh gak saya minta alamatnya Aksara? Soalnya saya cuma bisa satu hari lagi di kota ini.."
"Oh boleh, boleh. Ini mba.." Nala menyodorkan kartu nama Aksara.
Farah menerima kartu nama tersebut dan langsung pamit kepada Nala. Sementara Nala masih bertanya-tanya siapa Farah sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar