MENGHENTIKAN JEDA
Julian sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menjelaskan apa-apa pada Aksara. Pada akhirnya pun dia juga tidak memiliki kesempatan kedua. Dia sudah kalah dan memang harus mengalah. Membiarkan Aksara lari dengan pilihannya adalah jalan terbaik untuk Julian, setidaknya dia bisa melihat Aksara benar-benar bahagia.
Sementara itu Nala dan Laskar dibuat panik dengan tingkah Aksara. Tapi mereka kemudian sadar bahwa Aksara sedang menyelesaikan permasalahan perasaannya dengan Barata.
"Gue panik sih tadi, makanya gue langsung nelpon lu.."
"Hmm... pada akhirnya lu baru sadar kalau ini masalah perasaan?"
"Lu masih mendam rasa sama adek gue? lu cemburu atau marah?"
"Enggak sih, cuma lu kalau panik melebihi nyokap gue tauu!" Nala memukul pundak Laskar mencoba mencairkan suasana kembali.
Laskar menghela napas panjang," lihat aja ntar tuh anak kalau balik.."
"Apa? lu bakal ngerusak mood bahagia adik lu? Tega bener.."
"Gak lah, gue bakal siap dengerin semua ceritanya.." balas Laskar dengan senyum terbaiknya.
***
Mobil Aksara berhenti di depan rumah Barata. Sebentar ragu menyergapi Aksara, tapi dia menyakinkan untuk turun dan harus segera bertemu Barata.
"Selamat malam bu, mbak.. Baratanya ada?"
"Ada mbak. Maaf mbak ini siapa ya?" Adik dan Ibu Barata menerima Aksara di teras rumah.
"Saya Aksara Mbak, bu...."
"Oooh.. ya, kalau ibuk ndak salah Barata pernah cerita.. Hayu, duduk.." ajak Ibu Barata dengan sangat lembut.
Aksara mengikuti Ibu dan adik Barata ke dalam rumah, persisnya ke ruang tamu. " Sebentar ya mbak, saya panggil mas dulu.."
Seketika sunyi menghampiri Ibu Barata dan Aksara yang saling diam. Aksara mencoba merendam sunyi dengan melihat isi rumah Barata. Mulai dari foto di ruang tamu, ruang nonton hingga melirik dapurnya dari sudut kanan matanya.
"Mau minum apa Mbak Aksara?"
"Gak usah repot-repot Bu.."
"Eh kan gak apa-apa kan tamu.."
"Saya tadi udah minum, terima kasih ya Bu.."
"Nak, ibu boleh tanya?"
"Iya, kenapa bu?"
"Kamu pernah pacaran sama Barata?"
Aksara kaget dengan pertanyaan sang ibu yang terang-terangan, "hemm.. pernah bu, pernah.. kenapa ya bu?"
"Sudah Ibu duga, ternyata kamu toh yang bikin dia uring-uringan belakangan ini.."
Lagi, Aksara kaget dengan pernyataan ibu Barata. Sebelum sempat membalas pernyataan itu, Barata keluar dari kamarnya. Dia terlihat baru saja selesai mandi dan cukup kaget melihat kedatangan Aksara.
"Ya sudah ibuk ke dalam dulu ya.. Bar, kalau sudah larut jangan lupa diantar pulang, perempuan loh jangan biarin pulang sendiri.."
Barata hanya mengangguk. Ibuk masuk ke kamarnya dan hening kembali.
***
Detak jam dinding semakin menggambarkan keheningan yang terjadi di antara Aksara dan Barata malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan belum ada obrolan yang dimulai satu pun. Sesekali mereka bergantian berdehem atau pura-pura waktu. Mereka juga sudah pindah-pindah tempat, mulai dari ruang tamu hingga ke teras rumah.
"Jangan lama-lama diam Sar, dingin.." Barata mencoba membuka obrolan.
Aksara hanya tersenyum kecil. Dia bingung harus membuka obrolan dari mana. Sebuah kesalahpahaman dan ketidakjelasan hubungan sedang dia hadapi. Di sisi dia salah, di sisi yang lain dia juga butuh penjelasan.
Barata menghela napas panjang, merapatkan jaraknya dengan Aksara yang berdiri di depan balkon rumahnya.
"Kenapa Sar? Ada apa?"
Aksara masih saja diam, dia masih ragu berbicara tapi matanya mulai berkaca-kaca, langkahnya pun semakin dekat dengan Barata. Dia maju sampai sepatunya menyetuh sandal Barata. Perlahan-lahan Aksara merangkul dan memeluk laki-laki di hadapannya, tangisnya tumpah menjadi sesegukan yang kuat. Aksara menangis, menangis dalam pelukan Barata.
Cahaya bulan nan redup menjadi saksi tangisan Barata. Perlahan tangisnya berhenti seiring balasan pelukan Barata yang kuat. Barata menenangkannya.
"Lu boleh nangis sepuasnya.."
"Ini gue lagi nangis."
"Dasar, keras kepala!"
Lima belas menit mereka berpelukan. Saling erat, tanpa jeda. Barata kali tahu, Aksara datang bukan untuk memberikan penjelasan kepadanya, tapi menghentikan jeda yang terjadi antara mereka.
"Apa semua penjelasan itu sudah selesai?"
"Gue yang buat dia selesai?"
"Wah! Serius? Demi gue kah?"
Aksara melepaskan pelukannya. Mengusap matanya yang mulai sembab dan memukul Barata pelan," anda terlalu berharap," ujarnya sambil tersenyum.
Malam itu, meski cahaya bulan redup tapi kebahagiaan Aksara mulai bersinar. Dia kembali pada Barata, menghentikan jeda di antara komitmennya. Mereka kembali menjadi sepasang kasih dengan cita-cita, harapan dan misi masa depan yang bergantung pada malam itu. Malam menjadi saksi mereka yang kembali berbahagia. Bahagia karena bersama dan bahagia karena memulai lagi impian-impian masa depan mereka.
Komentar
Posting Komentar