SEMI BAHAGIA
Sore itu, Aksara sedang asik membaca buku di halaman belakang rumahnya. Membaca merupakan satu hobinya untuk menghilangkan kepenatan dan juga kesepian. Belakangan Aksara merasakan kerinduan untuk berkumpul bersama di rumahnya. Semakin ia dewasa, ia semakin merindukan Bapak dan Ibunya.
Aksara dan Laskar pernah berniat untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi niat itu harus pupus di tengah jalan. Bapaknya selalu menunda karena kepentingan kerja yang selalu menjadi prioritas. Sementara sang Ibu lebih mendahului kepentingan keluarga barunya, suami baru dan dua anak tirinya.
"Aksara.. Aksara..." teriak Laskar dari dalam rumah.
"Apaan bang? Gue di taman.."
"Eh sini, lihat deh siapa yang dateng.." Laskar memanggilnya dari dalam rumah.
Aksara menutup bukunya, ia sadar bahwa sedari tadi tidak satu kata pun dia baca. Dia sibuk dalam lamunannya yang dibuyarkan oleh sang kakak. Aksara mengikuti Laskar masuk ke dalam rumah dan melihat tamu yang datang.
"Hai, Aksara..." sapa tamu yang duduk dengan anggunnya di kursi tamu.
Aksara kaget. Sejenak Aksara menghentikan langkahnya, dia memperhatikan betul tamu yang duduk di kursi tamunya.
"Sar.. biasa aja kali !" tegur Laskar sambil menarik lengan Aksara.
"Ini Julia bang, Julia yang...."
Tamu itu berdiri menghampiri Aksara. " Gue Julia, kok lo kaget gitu? Gak percaya gue temen abang lo Sar?"
Aksara menarik napas panjang. Dia sama sekali tidak menduga bertemu dengan teman dekat abangnya yang sangat terkenal itu.
"Udah.. udah.. gak usah begong gitu. Heh Sar, ayo duduk.."
" Oke..oke.. duduk Julia, eh mba Julia.."Aksara mendadak gagap.
Suasana sore itu mendadak histeris dengan kekagetan Aksara. Laskar mencoba membuat suasana kembali normal dengan menjelaskan hubungannya dengan Julia. Sebagai abang, Laskar selalu bersikap terbuka kepada sang adik. Termasuk hubungan yang sedang dijalaninya saat ini dengan Julia.
**
Rasa kaget dan tidak percaya Aksara segera sirna, saat mereka telah bersiap untuk menyantap makan malam. Dari sore hingga menjelang malam, Julia dan Laskar menceritakan kisah mereka hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran.
"Oh.. jadi itu bukan gosip lagi ya Bang, mba..?"
"Siapa sih yang pengen digosipin, lebih baik ngungkapin fakta kan.." sahut Julia yang sedang menata meja makan.
"Oh ya. Gue juga udah banyak tahu tentang lo! Jadi jangan sungkan atau malu kalau mau cerita apapun sama gue yaa..."
Laskar tersenyum sekilas melihat keakraban yang langsung terjalin antara Julia dan Aksara. Rasanya kehidupan bahagia akan segera menyergapi hidupnya dan Aksara.
Momen makan malam hari itu berasa sangat hangat. Seperti biasa, Aksara dan Laskar selalu mengikutsertakan dua asisten rumah tangganya untuk makan malam bersama. Julia pun senang dan sama sekali tidak keberatan. Tak berbeda jauh dengan Aksara, Pak Min dan Bi Minah juga dibuat kaget dengan kedatangan Julia malam itu.
**
Permulaan kebahagian pun juga dirasakan Aksara. Sudah 180 hari ia bersama Barata, waktu kian cepat berputar. Mereka sama-sama memahami tanpa menyakiti satu sama lain. Hubungan mereka semakin dekat hingga rasa percaya menjadi landasan penting untuk mereka.
Barata sedang ditugaskan ke luar kota oleh Nala. ArtSpace akan menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan besar. Nala mempercayai Barata untuk menangani project tersebut karena kemampuan dan kepintaran Barata dalam menangani berbagai masalah.
Sekilas Aksara berpikir, apakah Nala sengaja memisahkan mereka berdua dari pekerjaan di kantor atau memang Nala ingin Barata menangani pekerjaan tersebut. Pikiran jahat itu cukup lama bersemayam di kepala Aksara. Buru-buru dia menghapus pikirin tersebut, dia merasa Nala tidak akan mungkin cemburu lagi padanya.
Nala menemuinya di ruangan.
"Sar... lo lagi sibuk gak?" tanya Nala dari balik pintu.
"Enggak kok.. ini baru mau mulai. Kenapa?"
"Hahaha.. enggak. Pengen ngobrol aja.." sahut Nala sambil masuk dan duduk di tepian meja kerja Aksara, kebiasaan Nala setiap pagi.
"Lo mau ngerumpi ya Nal?"
"Gak.. gue cuma mau nanya sama lo.."
"Nanya apa? Jangan yang berat, ku tak sanggup.."
"Lo jadian ya sama Barata?"
Aksara diam mengatupkan mulutnya. Matanya menatap tajam Nala. Tiba-tiba dia membuat gerakan kaku seakan-akan kepergok berbuat salah. Aksara memegang lehernya dan tiba-tiba tertawa untuk memecah keheningan.
"Tiba-tiba nanya...."
"Jawab Sar..." potong Nala tegas sambil membalas tatapan tajam Aksara.
Aksara mengembuskan napas panjang. Dia tidak mungkin lagi menutupi hubungannya dengan Barata yang semakin dekat. Apalagi di kantor yang karyawannya saling berbagi informasi.
"Iya.. udah lama kok. Kenapa? Ada SOP yang melarang?"
"Wah.. congrats yaa! Kok gak ngomong sih??" Nala mencoba membuat suasana menjadi meriah dan ceria, tapi ia gagal. Nala hanya pura-pura mengucapkan selamat, Aksara tahu itu.
"Nal.. gue gak maksud buat lo sakit hati. Tapi gue gak pernah tahu siapa dan di mana gue bisa jatuh cinta sama seseorang.. lagian di kantor gak ada SOP ini kan?" Aksara kembali mempertanyakan tentang SOP.
"Gue gak papa kok Sar, gue cuma mau mastiin aja. Karena beberapa bulan ini gue penasaran banget sama lo.."
Nala menyudahi percakapannya. Dia mengucapkan selamat kembali kepada Aksara untuk kedua kalinya sebelum dia keluar. Aksara tetap mengetahui bahwa Nala pura-pura ikut berbahagia. Perasaan bersalah mulai muncul, di sisi lain Aksara merasa tidak ada yang salah juga, toh itu privasinya.
"Oh ya.. SOP tentang larangan pacaran sesama karyawan gak ada kok. Dan gue lihat Tiwi juga cukup cantik.."
"Ha..? maksud lo? lo naksir Tiwi? " teriak Aksara yang kaget dengan pernyataan Nala. Aksara sama sekali tidak mengetahui ada kedekatan apa antara Nala dan Tiwi. Nala keluar sampai melambaikan tangan, itu berarti dia sedang meledek Aksara.
**
"Hai.. gimana perjalanan kerja kali ini?" Tanya Aksara ketika sudah duduk di dalam taksi bersama Barata.
Hari itu Aksara memutuskan untuk menjemput Barata di Stasiun. Semula Barata sudah melarang, tapi dia tetap saja kalah dengan perempuan keras kepala yang amat disayanginya.
"Menyenangkan sih.. banyak cewek cantik.. hahaha"
"Oh.. gitu.."
"Cie.. marah nih. Gak lah, selama di sana gue cuma kepikiran satu cewek doang kok.."
"Ah masa?" balas Aksara tampak cuek sambil memandang ke arah jalan.
Barata memperhatikan tingkah Aksara. Dia ingin sekali memeluk erat Aksara, mengungkapkan rasa rindunya. Dia tahu Aksara sedang kesal, momen itu justru y
menyenangkan untuknya.
"Kalau lagi kesel gitu tambah ngangenin gak sih.."
"Bar.. ih tempat umum kali.." Aksara sambil melihat ke arah sopir taksi.
Mereka berhenti di suatu kafe. Seperti biasa mereka menghabiskan waktu untuk saling bercerita dan bertemu. Setelah dua minggu terpisahkan oleh jarak, hari itu Aksara ingin mendengarkan semua cerita Barata. Dia ingin memandangi langsung laki-laki yang sudah membuatnya berubah.
Barata juga menatapnya. Ada perasaan yang saling berkaitan di antara mereka berdua, ingin dilepaskan tapi mereka saling menahan.
"Lo tau Sar, gue kangen banget sama lo. Cuma gue gak bisa ngelepasinnya. Kenapa ya? "
"Mungkin kita masih canggung"
"Atau mungkin gue takut ya kehilangan lo...."
"Buat dong jangan sampe kehilangan gue. Gue pun sebaliknya.. "
"Gue berusaha, gue berusaha Sar.. " Janji Barata sambil memegang erat tangan Aksara dan dibalas senyuman termanis perempuan itu.
Komentar
Posting Komentar