MASA LALU YANG KEMBALI

Malam itu perpisahan Barata dan Aksara diakhiri dengan perasaan yang sangat bahagia. Barata memutuskan untuk mengantarkan Aksara terlebih dulu. Dan lagi, senyum penuh kebahagiaan masih terlihat nyata di wajah mereka berdua.
"Mas Bara.. kok pulangnya cepet?" Donny menyambut Barata di teras rumahnya. 
"Iya nih Don kebetulan kelarnya cepet. Eh di dalam ada tamu?"
"Kayanya sih Mas, saya juga baru pulang. Ini lagi ngadem dulu.." Wajah Donny tampak berkeringat karena cuaca hari itu cukup panas. 
Tania keluar dari rumah sedikit berlari. Dia ingin memastikan apakah di luar memang ada Barata atau tidak. 
"Mas? Bener udah pulang! Hayu mas masuk, ada tamu buat Mas Bara.." Tania memaksa Barata yang baru saja melepas penat di teras bersama Donny.
"Eh hayu Mas, Mas Donny ayo masuk. Kamu ngapain di luar gitu.."
"Siapa sih?" tanya Barata uring-uringan. Dia tetap masuk digandeng Tania dan diikuti Donny dari Belakang.
Di ruang tamu, Ibu Barata dan sang tamu sudah berbincang-bincang akrab. Saling menyanjung dan saling melempar senyum, sesekali ketawa cekikikan. 
"Nah.. bener kan itu Barata. Ibu sudah tebak, dia pulangnya lebih cepet.." Ibu berdiri, berjalan menuju Barata. Meminta Barata untuk duduk dan berbicara dengan tamunya.

"Kamu silahkan ngobrol ya sama Barata, kami mau ke belakang dulu buat makan malam. Kamu nolak mulu ibu ajakin.."

"Iya maaf Bu. Tapi saya sudah makan tadi, terima kasih mungkin lain kali bu.."

Ibu, Tania dan Donny meninggalkan Barata dan sang tamu di ruang tamu, berdua. Sunyi dan penuh tanda tanya di pikiran Barata. Padahal tubuhnya lelah sekali, ingin rasanya langsung berbaring setelah bertemu dengan Aksara tadi. Namun harus tertunda, karena masa lalu yang tiba-tiba mendatanginya.


**

"Ini udah mau jam 21.00.."

"Iya aku tahu. Aku di sini dari jam 6 sore. Cari kamu, nunggu kamu dan nunggu kamu ngomong.."

"Buat apa Farah?" 

"Barata, please. Aku datang untuk kasih penjelasan, aku mau minta maaf sama kamu, aku mau  sama kamu baik-baik lagi.."

"Penjelasan itu dikasih waktu mau atau akan pergi, bukannya udah pergi lalu kembali baru ngasih penjelasan. Ngaco!"
Kekesalan Barata mulai memuncak. Napasnya menderu kencang. Dia bangkit dari kursi, memegang kepalanya, memegang tengkuknya, dia mulai frustasi karena kedatangan Farah yang tidak pernah diharapkan. 
"Bar.. aku tahu kamu marah, tapi aku cuma mau ngejelasin ke kamu.. kalau aku.."

"Kalau kamu selingkuh dari aku, karena kamu gak cukup yakin sama aku yang gila kerja ini? Iya kan? Duh.. Farah, udah deh basi tau gak. Aku gak mau berdebat kaya di FTV ya sama kamu.."

"Kasih aku waktu Barata. Buat kasih penjelasan ke kamu, itu aja cukup.."

"Tapi aku gak punya waktu buat kamu. Pulang deh. Aku capek, baru pulang dari luar kota.."

"Bar..?"

"Pulang Farah. Cukup sekali kan ngusirnya?"

Farah terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak bisa lebih keras lagi kepada Barata, karena dia tahu Barata akan jauh lebih keras terhadapnya. Farah menyerah malam itu, dia pulang dengan perasaan bersalah yang masih melekat. Sementara Barata, masih berada di puncak kekesalannya.

**

Di kantor hari itu, Barata dalam keadaan bingung. Di satu sisi dia juga penasaran, hal apa yang membuat Farah tiba-tiba kembali mendatanginya. Di saat yang bersamaan rasa bingungnya semakin kuat. Apakah dia harus menceritakan kepada Aksara atau tidak. Tiba-tiba rasa takut menghantuinya, dia takut kisah bahagianya semalam dengan Aksara segera hancur.


"Bar.. Barata.."

"Iya.. eh Tiwi.."

"Lo bengong ya?" Tiwi yang sedari tadi berdiri di samping meja Barata tampak heran.

"Ah engga kok.. kenapa Tiw?"

"Nih hp lo tadi ketinggalan di ruang meeting dari tadi bunyi mulu.."

Barata mengambil handphonenya dari tangan Tiwi. Tiba-tiba panggilan masuk muncul di layar handphonenya, tanpa nama dan nomor yang terasa asing bagi Barata.

"Eh, makasih ya Tiw.."

"Ngelamun mulu sih, diangkat dong siapa tahu penting.." 

Barata menerima saran dari Tiwi untuk mengangkat telpon. Dia berdiri dan  sambil berjalan menuju taman di belakang kantor.

**

"Lo habis dari mana?"

"Habis dari taman"

"Ngapain?"

"Nelpon beh.."

"Kok diem-dieman gitu?"

"Ibu nelpon gue.."

"Oh..."

Aksara sedikit terusik dengan sikap Barata yang tampak kaku atau kaget. Dia memikirkan dua kemungkinan itu,  ada apa? Dia membatin di dalam hati. Tapi Aksara tidak mau menimbulkan kecurigaan terlalu dini, dia menganggap Barata masih dalam keadaan capek  dia memilih untuk tidak membuat perdebatan.

"Lo udah makan?" Barata mencoba memecahkan keheningan di antara mereka siang itu di ruang kerja Aksara.

"Belom.."

"Udah jam 3 loh ini. Kok telat sih makannya?"

"Lo udah makan emang?"

"Belum juga, hehe... yuk bareng.."

"Lo jangan protes ke gue, lo aja belom makan.."

Barata hanya membalas dengan senyum dipaksakan. Sementara pikirannya melayang pada Farah, telpon dari Farah dan Barata sedang berpikir keras bagaimana cara mengatakan pada Aksara tentang hal ini.


**

"Sar.. Aksara.." Barata berlari mengejar Aksara yang sedang jalan.

"Kok lo gak nunggin gue? Lo kenapa jalan aja, kan biasa kita pulang bareng.."

"Ngapain gue nungguin orang yang dari tadi badmood.."

"Sar..."

"Kan gue udah bilang sama lo Bar, gue gak suka ada yang ditutupin. Serapat-rapatnya lo sembuyiin dari gue, gue pasti tau.." Aksara mulai menujukkan kekesalannya.
Barata meraih tangan Aksara. Dia berusaha menenangkan hati perempuan yang dicintainya, tapi dia juga sedang berusaha memberanikan diri untuk menjelaskan tentang perempuan di masa lalunya pada Aksara.
"Gue minta maaf Sar. Gue cuma lagi cari cara aja buat kasih tahu sesuatu sama lo.."
"Lo tinggal ngomong aja kok Bar. Tanpa harus bohong sama gue.."
"Farah. Farah Sar.. dia tiba-tiba datang nemuin gue lagi.."
"Apa? Farah?"
"Dia tadi malam ke rumah gue. Dia bilang, dia sengaja nemuin gue buat ngejelasin persoalan masa lalu gue sama dia. Tapi sumpah Sar, gak ada sedikit pun rasa gue saat Farah datang lagi. Gue cuma bingung aja ngomongnya ke lo, gue takut lo salah paham. Itu aja."
"Gue akan lebih salah paham lagi kalau lo diem aja Bar.."
"Gue minta maaf.."
"Terus  lo nanggepin dia buat kasih penjelasan?"

"Belom.. Pulang bareng yuk, gue jelasin semuanya sambil ngopi.."

**

Beberapa hari setelah Farah datang menemui dan menghubungi Barata, hubungannya dengan Aksara menjadi sedikit renggang. Begitu pun sebaliknya, Aksara dalam keadaan bingung harus bersikap seperti apa. Di satu sisi dia juga tidak mau menjadi perempuan yang cemburuan, di satu sisi dia juga tidak mau Barata kembali pada masa lalu.

Aksara berdiam diri di ruangannya. Menimbang-nimbang keputusan apa yang sebaiknya diambil. Hal yang pasti bukan sebuah keputusan yang buruk, bukan keputusan yang harus memisahkan. 

Nala tiba-tiba membuyarkan semua pemikiran Aksara lagi.

"Sar.. gue lupa kasih tahu sama lo, kalau bakal ada karyawan baru nih.."

"Loh lo nerima karyawan lagi?"

"Ini dia sambilan kok, semacam freelance gitu. Gue rasa kita butuh dia buat project iklan yang kemarin.."

"Tapi kan iklannya makanan sama minuman, lebih ke video dong."

"Nah tepat kan, dia jago kok di foto sama video. Tapi basicnya design grafis, sama kaya Barata.."

"Oh ya udah deh, datang kapan?"

"Itu udah di luar. Setengah jam lagi kita temui ya, ntar biasa.. "

"Hmm.. jadi tour guide?" 

"Iya.. tapi jangan dipacarin juga.."


Tawa Nala puas meledek Aksara pagi itu. Setengah jam sebelum bertemu dengan karyawan barunya, Aksara, Nala dan karyawan lainnya melakukan briefing pagi. Kegiatan itu hanya berlangsung selama 15 menit. Selama itu juga kekakuan terjadi antara Aksara dan Barata. Mereka seolah saling memahami untuk menjaga jarak sementara waktu, tapi mereka juga saling penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan mereka. Aksara lebih memilih diam dan Barata kebingungan.

**

"Aksara.."

"Ya Nal, kenapa?"

"Karyawannya ada di ruangan gue.."

"Oh oke.."

Aksara masuk ke ruangan kerja Nala. Nala melepaskan senyum manisnya untuk menyambut karyawan baru. Sebagai seorang pimpinan muda, Nala menjadi pimpinan favorit dengan sikap dan perilakunya kepada semua karyawan. Dia ramah, baik, tidak pernah marah dan selalu bijak dalam mengambil keputusan.

"Sini Sar.." Nala menyuruh Aksara berdiri di samping kursi kerjanya.

"Nah ini karyawan barunya. Dia punya latar belakang yang keren, sebenarnya udah punya perusahaan kecil-kecilan ya, tapi kekeuh mau kerja di sini.. Oke. Kenalin ini Aksara, anggap aja dia manajer di sini ya.."

Karyawan baru itu mengangkat kepala. Menatap bergantian, kepada Nala dan Aksara. Selama beberapa menit dan akhirnya memutuskan menatap Aksara terus menerus hingga Nala harus menghentikan tatapan karyawan baru itu.

"Aksara?"

"Kok bengong gitu ya? Ada apa?" Nala berada dalam posisi yang membingungkan.

Aksara masih tidak percaya. Dia mematung di samping Barata dan di hadapan karyawan barunya, Julian.

"Julian!" bibir Aksara gemetar mengucapkan nama yang sudah hampir dia lupakan.


 











Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUANG BICARA

JULIAN

PUBLIKASI