BARATA : LOVE YOU!
Setiap manusia punya pilihan dalam hidupnya. Berhak memilih adalah jurus manusia untuk bisa bertahan hidup, terutama untuk bisa mempertahankan apa yang seharusnya dilakukan, ya meskipun itu tetap saja salah di mata orang lain.
Terutama menyoal perasaan. Sikap dan cara seseorang melupakan atau bahkan mengenang masa lalu banyak cara. Ada yang tetap bersedih, mengenang atau bahkan ada yang langsung move on.
"Tapi gue selalu kedua-duanya salah, gue selalu aja terjebak.."
"Kalau lo udah tau terjebak dalam sikap dan cara lo menyoal perasaan kenapa masih ngelakuinnya?" tanya Barata dengan tatapan tajam.
"Hem lo gimana sama Farah? Udah aman tuh hati?" Aksara balik bertanya.
"Hem lo gimana sama Farah? Udah aman tuh hati?" Aksara balik bertanya.
Tingkah Barata sekian detik membuat Aksara menjadi kaku dan canggung. Hujan yang mengguyur di kafe tempat mereka duduk pun seolah-olah berhenti sesaat. Cara laki-laki yang baru dalam hidupnya ini membuat Aksara merasa berbeda. Ada sebuah kenyamanan bermakna lewat tatapan tersebut.
"Ah, kan gue bilang. Ada banyak cara buat move on!"
"Ah, kan gue bilang. Ada banyak cara buat move on!"
"Oh, gue tau! Berari cari pelarian dong?"
" Ya enggak juga sih Sar.. Gimana kata lo, kan proses nah proses itu cara. Mungkin cara gue adalah dengan tetap kerja dan di dalam tetap kerja itu bakal terjadilah proses melupakan.."
" Ya enggak juga sih Sar.. Gimana kata lo, kan proses nah proses itu cara. Mungkin cara gue adalah dengan tetap kerja dan di dalam tetap kerja itu bakal terjadilah proses melupakan.."
"Bener sih, tapi gue suka susah lupa aja. Mungkin gue baperan kali ya, suka kaget dan deg-degan yaa!"
"Kalau gue.. ngomong..."
"Kalau ngomong apa? kalau lo pernah ngerasain hal yang sama?"
"Sara! Love you"
Aksara terdiam. Cukup lama sampai tangannya spontan mengambil gelas dan minum seperti orang kehausan. Barata membuatnya jantungnya lebih berdetak kencang seakan mau copot, ah lebay! Dia memahaminya sebagai reaksi kaget atas ucapan Barata. Ya, iya, Barata. Tidak mungkin..
"Hem..? apaan sih lo? bercandanya ngagetin ya.."
"Nah..! Hati lo berdebar kan? Kalau beneran gimana? alah.. bukan dia aja, siapa tadi nama cowok itu?"
"Julian.."
" Ya.. Julian. Kadang semua orang bisa bikin hati lo berdebar atau jantungan.." ujar Barata diiringi tawa puas
**
Hari itu hari Minggu. Kali ketiga Barata dan Aksara jalan bersama. Rasanya suatu perkenalan yang biasa saja, tapi ada sebuah perjalanan yang panjang untuk mereka saling mengenal dan akrab. Setelah dari kafe, Barata dan Aksara berencana untuk nonton film. Kali ini giliran Barata yang menentukan tempat dan rencananya.
"Lo beneran gak masalah pake motor?" (sedang membonceng Aksara)
"Beneran lah.. justru gue bosen kalau pake mobil.."
"Mau ke mana kita?"
"Yey, sekarang kan giliran lo!" (sambil menepuk pundak Barata)
"Nonton aja di mall biasa gimana?"
"Itu sih rencana awal kan ya.. rencana lain?"
"Main ke taman atau ke kebun binatang?"
Aksara diam sejenak sembari mengerutkan keningnya. Ajakan Barata selalu membuatnya berpikir keras. Apakah ajakan itu hanya sekedar lelucon, apakah ajakan itu memang sengaja dibuat oleh Barata untuk dirinya, untuk menyenangkannya atau membuatnya mencoba hal yang baru.
"Oke ayo!"
**
Rencana nonton di hari minggu ini berlangsung damai dan sukses. Tidak ada percekcokan antaran Aksara dan Barata. Aksara menuruti semua pilihan Barata, mulai dari memilih film, kursi di bioskop hingga cemilan. Setelah nonton, Barata mengajaknya ke Taman. Tidak jauh dari mall tempat mereka nonton.
"Eh, bentar Bar. Abang gue nelpon.." ujar Aksara ketika mereka akan keluar dari mall.
"Udah? Lo ga izin sama bapak muda lo keluar?"
"Haa! ngeledek bang Laskar, gue aduin lo ntar! Izin sih, cuma dia begitu orangnya"
"Protektif?"
"haa.. bukan lagi.." jawab Aksara sambil melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di Taman, cuaca mendadak berubah. Mendung segera menyergap langit yang baru mendatangkan sore. Seketika petir mulai menyambar perlahan-lahan. Tetes demi tetes air langit membasahi aspal yang sedari tadi mengebul. Aksara dan Barata mencoba berlarian mencari tempat untuk melindungi diri dari hujan.
"Yah..hujan deh! gagal dong main di taman.."
"Hujan kan berkah tau. Kalau lo mau main, main hujan aja yuk?" ajak Aksara dengan ekspresi sangat bahagia.
Pertama kali melihat ekspresi Aksara yang begitu bahagia, Barata terpesona. Nyatanya, sisi lain yang membuat laki-laki terpesona pada seorang perempuan adalah sikap alamiah perempuan ketika benar-benar begitu bahagia.
"Barata...!"
"eh iya.." Barata seketika bangun dari keterpesonaannya.
"Mau gak?"
"Gila lo main hujan, banyak orang. Lo itu bukan remaja lagi kali.."
"Iya gak apa-apa, anggap aja lagi nyari tempat neduh, kita tinggal lari-lari aja..! Ayoool!" Tekad Aksara untuk main hujan sudah bulat. Tanpa sadar ia menarik tangan Barata dan berlarian di tengah hujan.
Setelah berlarian selama 30 menit dalam hujan, Akhirnya Aksara berhenti di sebuah halte. Barata yang mengejarnya pun mengambil posisi tepat di sebelah Aksara. Mereka sudah basah kuyup.
"Capek lo?" tanya Aksara yang seketika merasa bersalah mengajak Barata," maaf yaah.."
"Haha, bocah emang lo. Gapapa, gue jarang hujan-hujan sih. lo dingin gak?"
"Tapi lo engap gitu deh? gue udah biasa hujan-hujanan, dari kecil malah..hahaha.."
"Eh kalau abang lo tau gimana?"
"Biarin aja, paling cuma ngomel.. hahaha.."
Mereka menikmati hujan yang turun sepanjang sore itu. Berdua di halte yang tak ada yang menghuninya, selain Barata dan Aksara. Perlahan-lahan hujan reda, malam pun menyambangi langit menggantikan posisi sore. Aksara masih terpaku melihat tetesan hujan yang turun dari atap halte. Barata beberapa kali memandangi wajah Aksara yang mulai pucat karena kedinginan. Namun di balik pandangannya itu, ada satu hal yang ingin disampaikan Barata.
" Lo ngeliatin gue dari tadi gitu?"
Spontan Barata berdiri. Dia kaget melihat Aksara yang sadar atas pandangannya.
"Ah engga juga.."
"Kenapa sih lo?"
"hem.. Aksara!"
"Kenapa?"
"Gue cuma mau bilang aja, kalau kalimat gue yang bikin lo kaget tadi, benar. gimana?"
"Kalimat yang mana?"
"Love you.."
Hening. Suara hujan berusaha mengisi keheningan di antara Barata dan Aksara. Mereka sama-sama menatap jalanan yang padat oleh kendaraan dan berusaha menutupi kegusaran.
"Main ke taman atau ke kebun binatang?"
Aksara diam sejenak sembari mengerutkan keningnya. Ajakan Barata selalu membuatnya berpikir keras. Apakah ajakan itu hanya sekedar lelucon, apakah ajakan itu memang sengaja dibuat oleh Barata untuk dirinya, untuk menyenangkannya atau membuatnya mencoba hal yang baru.
"Oke ayo!"
**
Rencana nonton di hari minggu ini berlangsung damai dan sukses. Tidak ada percekcokan antaran Aksara dan Barata. Aksara menuruti semua pilihan Barata, mulai dari memilih film, kursi di bioskop hingga cemilan. Setelah nonton, Barata mengajaknya ke Taman. Tidak jauh dari mall tempat mereka nonton.
"Eh, bentar Bar. Abang gue nelpon.." ujar Aksara ketika mereka akan keluar dari mall.
"Udah? Lo ga izin sama bapak muda lo keluar?"
"Haa! ngeledek bang Laskar, gue aduin lo ntar! Izin sih, cuma dia begitu orangnya"
"Protektif?"
"haa.. bukan lagi.." jawab Aksara sambil melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di Taman, cuaca mendadak berubah. Mendung segera menyergap langit yang baru mendatangkan sore. Seketika petir mulai menyambar perlahan-lahan. Tetes demi tetes air langit membasahi aspal yang sedari tadi mengebul. Aksara dan Barata mencoba berlarian mencari tempat untuk melindungi diri dari hujan.
"Yah..hujan deh! gagal dong main di taman.."
"Hujan kan berkah tau. Kalau lo mau main, main hujan aja yuk?" ajak Aksara dengan ekspresi sangat bahagia.
Pertama kali melihat ekspresi Aksara yang begitu bahagia, Barata terpesona. Nyatanya, sisi lain yang membuat laki-laki terpesona pada seorang perempuan adalah sikap alamiah perempuan ketika benar-benar begitu bahagia.
"Barata...!"
"eh iya.." Barata seketika bangun dari keterpesonaannya.
"Mau gak?"
"Gila lo main hujan, banyak orang. Lo itu bukan remaja lagi kali.."
"Iya gak apa-apa, anggap aja lagi nyari tempat neduh, kita tinggal lari-lari aja..! Ayoool!" Tekad Aksara untuk main hujan sudah bulat. Tanpa sadar ia menarik tangan Barata dan berlarian di tengah hujan.
Setelah berlarian selama 30 menit dalam hujan, Akhirnya Aksara berhenti di sebuah halte. Barata yang mengejarnya pun mengambil posisi tepat di sebelah Aksara. Mereka sudah basah kuyup.
"Capek lo?" tanya Aksara yang seketika merasa bersalah mengajak Barata," maaf yaah.."
"Haha, bocah emang lo. Gapapa, gue jarang hujan-hujan sih. lo dingin gak?"
"Tapi lo engap gitu deh? gue udah biasa hujan-hujanan, dari kecil malah..hahaha.."
"Eh kalau abang lo tau gimana?"
"Biarin aja, paling cuma ngomel.. hahaha.."
Mereka menikmati hujan yang turun sepanjang sore itu. Berdua di halte yang tak ada yang menghuninya, selain Barata dan Aksara. Perlahan-lahan hujan reda, malam pun menyambangi langit menggantikan posisi sore. Aksara masih terpaku melihat tetesan hujan yang turun dari atap halte. Barata beberapa kali memandangi wajah Aksara yang mulai pucat karena kedinginan. Namun di balik pandangannya itu, ada satu hal yang ingin disampaikan Barata.
" Lo ngeliatin gue dari tadi gitu?"
Spontan Barata berdiri. Dia kaget melihat Aksara yang sadar atas pandangannya.
"Ah engga juga.."
"Kenapa sih lo?"
"hem.. Aksara!"
"Kenapa?"
"Gue cuma mau bilang aja, kalau kalimat gue yang bikin lo kaget tadi, benar. gimana?"
"Kalimat yang mana?"
"Love you.."
Hening. Suara hujan berusaha mengisi keheningan di antara Barata dan Aksara. Mereka sama-sama menatap jalanan yang padat oleh kendaraan dan berusaha menutupi kegusaran.
Komentar
Posting Komentar