Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

MASA LALU YANG KEMBALI

Malam itu perpisahan Barata dan Aksara diakhiri dengan perasaan yang sangat bahagia. Barata memutuskan untuk mengantarkan Aksara terlebih dulu. Dan lagi, senyum penuh kebahagiaan masih terlihat nyata di wajah mereka berdua. "Mas Bara.. kok pulangnya cepet?" Donny menyambut Barata di teras rumahnya.  "Iya nih Don kebetulan kelarnya cepet. Eh di dalam ada tamu?" "Kayanya sih Mas, saya juga baru pulang. Ini lagi ngadem dulu.." Wajah Donny tampak berkeringat karena cuaca hari itu cukup panas.  Tania keluar dari rumah sedikit berlari. Dia ingin memastikan apakah di luar memang ada Barata atau tidak.  "Mas? Bener udah pulang! Hayu mas masuk, ada tamu buat Mas Bara.." Tania memaksa Barata yang baru saja melepas penat di teras bersama Donny. "Eh hayu Mas, Mas Donny ayo masuk. Kamu ngapain di luar gitu.." "Siapa sih?" tanya Barata uring-uringan. Dia tetap masuk digandeng Tania dan diikuti Donny dari Bel...

MISI MASA DEPAN

"Bar.. boleh kepinggir bentar gak?"  Barata langsung berhenti di pinggir jalan. Meski permintaan Aksara mendadak tapi tidak membuatnya kaget. Dia berusaha memarkir motornya dengan posisi yang strategis.  Sejak akhir kalimat Barata tadi, mereka belum memulai obrolan lagi. Hanya saling bergantian berdehem dan sesekali  terbatuk. Ada perasaan canggung yang harus diselesaikan. "Bar.. gue sebenarnya kaget gak kaget sih lo ngomong gitu.." "Gue minta maaf Aksara, gue gak.." "Bentar.. bentar, biar gue yang ngejelasin dulu gue gak mau lo salah paham atau merasa bersalah Bar.."  Barata diam dan mempersilahkan Aksara menjelaskan pernyataannya dan memberikan sikap atas kalimat Barata tadi. Sinar rembulan seakan menjadi saksi atas obrolan mereka berdua dan seakan tak terjadi hujan deras tadi, semuanya kembali cerah dan pakaian mereka yang basah pun mulai mengering. Aksara duduk di samping Barata. Memulai penjelasannya yang mun...

SEMI BAHAGIA

Sore itu, Aksara sedang asik membaca buku di halaman belakang rumahnya. Membaca merupakan satu hobinya untuk menghilangkan kepenatan dan juga kesepian. Belakangan Aksara merasakan kerinduan untuk berkumpul bersama di rumahnya. Semakin ia dewasa, ia semakin merindukan Bapak dan Ibunya.  Aksara dan Laskar pernah berniat untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, tapi niat itu harus pupus di tengah jalan. Bapaknya selalu menunda karena kepentingan kerja yang selalu menjadi prioritas. Sementara sang Ibu lebih mendahului kepentingan keluarga barunya, suami baru dan dua anak tirinya. "Aksara.. Aksara..." teriak Laskar dari dalam rumah. "Apaan bang? Gue di taman.." "Eh sini, lihat deh siapa yang dateng.." Laskar memanggilnya dari dalam rumah. Aksara menutup bukunya, ia sadar bahwa sedari tadi tidak satu kata pun dia baca. Dia sibuk dalam lamunannya yang dibuyarkan oleh sang kakak. Aksara mengikuti Laskar masuk ke dalam rumah dan melihat tamu yan...

BARATA : LOVE YOU!

Setiap manusia punya pilihan dalam hidupnya. Berhak memilih adalah jurus manusia untuk bisa bertahan hidup, terutama untuk bisa mempertahankan apa yang seharusnya dilakukan, ya meskipun itu tetap saja salah di mata orang lain.  Terutama menyoal perasaan. Sikap dan cara seseorang melupakan atau bahkan mengenang masa lalu banyak cara. Ada yang tetap bersedih, mengenang atau bahkan ada yang langsung move on . "Tapi gue selalu kedua-duanya salah, gue selalu aja terjebak.."  "Kalau lo udah tau terjebak dalam sikap dan cara lo menyoal perasaan kenapa masih ngelakuinnya?" tanya Barata dengan tatapan tajam. "Hem lo gimana sama Farah? Udah aman tuh hati?" Aksara balik bertanya. Tingkah Barata sekian detik membuat Aksara menjadi kaku dan canggung. Hujan yang mengguyur di kafe tempat mereka duduk pun seolah-olah berhenti sesaat. Cara laki-laki yang baru dalam hidupnya ini membuat Aksara merasa berbeda. Ada sebuah kenyamanan bermakna lewat tatapan ...